Kisah Perjalanan Menaklukkan Diri di LATANSA PKS Kepri 2026: “Kalau Bukan Allah SWT yang Menguatkan”

Alhamdulillah, akhirnya upacara pembukaan selesai juga. Saya mengembuskan napas panjang sambil tersenyum lega.

Dalam hati saya kembali berbisik,

“Mungkin inilah tantangan pertama. Sebuah latihan mental agar setiap peserta menjadi pribadi yang tangguh, bukan hanya selama mengikuti LATANSA, tetapi juga ketika kembali ke rumah dan mengabdi di tengah masyarakat.”

Tak lama kemudian, tibalah waktu yang paling ditunggu-tunggu: makan siang.

Sistem makannya cukup unik. Kami makan bersama menggunakan satu nampan berukuran sedang untuk satu tenda. Di Tenda 17, kami berjumlah sembilan orang. Suasananya langsung mencair dengan canda dan tawa.

Sambil melihat kami yang berusaha mencari posisi duduk, ketua kelompok kami, Bu Nanik, berseloroh,

“Duduknya miring-miring ya, biar semuanya muat melingkar!”

Sontak kami pun tertawa. Maklum, dari sembilan penghuni tenda, hanya dua yang berbadan langsing. Selebihnya, ya, sama-sama berisi. Candaan sederhana itu membuat rasa canggung di antara kami perlahan menghilang.

Menu makan siang yang tersaji memang tidak mewah. Namun, justru di situlah saya merasakan sesuatu yang jauh lebih berharga. Kami makan dari nampan yang sama, saling menunggu, saling berbagi, dan saling mempersilakan satu sama lain.

Tags: