Kisah Perjalanan Menaklukkan Diri di LATANSA PKS Kepri 2026: “Kalau Bukan Allah SWT yang Menguatkan”

Setibanya di lokasi perkemahan, kami segera mencari tenda sesuai pembagian yang telah ditentukan. Alhamdulillah, nama saya tertera di Tenda 17. Saya satu tenda bersama delapan peserta lainnya yang berasal dari Batam, Tanjungpinang, dan Lingga. Dari sinilah kami mulai saling berkenalan, meski hanya beberapa menit sebelum rangkaian kegiatan dimulai.

Waktu istirahat terasa begitu singkat. Tak lama kemudian, seluruh peserta diarahkan menuju lapangan untuk mengikuti upacara pembukaan.

Upacara berlangsung cukup lama di bawah terik matahari yang seolah tak mengenal ampun. Sengatan panasnya begitu terasa hingga kulit seperti terbakar.

Saya sengaja memilih berdiri di barisan paling belakang. Alasannya sederhana. Kalau kaki mulai pegal dan harus bergoyang ke kanan atau ke kiri agar tidak kram, semoga tidak terlalu terlihat. He-he…

Semakin lama berdiri, keringat terus mengucur membasahi pakaian. Tubuh mulai kehilangan tenaga. Di sekeliling saya, beberapa wajah tampak semakin pucat. Satu per satu peserta mulai keluar dari barisan untuk beristirahat. Mula-mula satu orang, lalu dua, tiga, empat, hingga jumlahnya semakin bertambah. Mungkin sekitar sepuluh peserta harus menepi karena tidak kuat menahan panas.

Saya sendiri pun mulai merasakan kaki pegal luar biasa. Sesekali saya menggerakkan kaki ke kanan dan ke kiri agar tidak kram.

Dalam hati saya terus menyemangati diri,

“Bertahanlah… Ini belum seberapa. Saudara-saudara kita di Palestina menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada ini.”

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa rasa lelah yang saya alami hanyalah setitik dibandingkan penderitaan yang harus mereka jalani setiap hari. Seketika keluhan itu berubah menjadi rasa syukur, dan saya kembali meneguhkan langkah untuk tetap bertahan.

Tags: