Kader yang Berani Berpikir

Oleh:Detti Febrina
Bandar Lampung, 30 September 2026

Pertanyaan ini terlalu menggelitik untuk diabaikan. Disampaikan seorang kader muda ketika saya mengisi workshop di kotanya.

“Gimana caranya, Mik, biar gak kena mental di kultur yang antikritik? Padahal diklaim kami calon penerus. Yang disenangi orang-orang kalem, no komen, ikut arus. Padahal kritik bukan untuk membahayakan, tapi untuk membangun dan memperbaiki.”

Menarik bukan? (BUKAN 😩).

Ada satu hal yang mungkin perlu direnungkan dalam perjalanan dakwah kita.

Pertama, kita sudah punya tradisi merdeka berpikir.

Ini bukan gagasan baru.

Dalam tradisi dakwah ini, syura justru lahir dari kesadaran bahwa tiada seorang pun memiliki seluruh jawaban.

KH Hilmi Aminuddin menjelaskan pentingnya syura dan istisyārah (= saling berkonsultasi atau minta pandangan), termasuk secara informal.

“Attasyji’ ‘indal ijtihad. Dorong untuk berani mengemukakan pendapat. Dan jangan dahulukan pendapat qiyadah. Sebab junud (kader) itu kalau qiyadah sudah berpendapat biasanya akan diam.”

Jadi, memberi ruang berpikir bukan gagasan yang bertentangan dengan kultur kepemimpinan dakwah. Justru bagian dari nasihat kepemimpinan itu sendiri.

Bahkan berkali-kali Ustadz Almuzzammil Yusuf menyebut pentingnya collective genius—bahwa kecerdasan, pengalaman, dan perspektif yang tersebar di kepala banyak orang perlu dimunculkan dan dipertemukan.

Artinya, bukankah fondasi nilainya sudah ada?

Pertanyaannya: Apakah nilai itu sudah terasa sebagai budaya dalam keseharian kita?

Kedua, kader yang berani berpikir gak harus selalu menghasilkan jawaban yang persis sama.

Ini mungkin bagian yang paling perlu direnungkan.

Mudah bilang: “Silakan kritis.” Sampai kritik itu datang kepada kita.

Mudah mengatakan: “Ayo dong berinisiatif.” Sampai inisiatif itu dilakukan dengan cara yang gak biasa kita lakukan.

Mudah menyebut: “Generasi muda harus kreatif.” Sampai kreativitas itu mempertanyakan sesuatu yang selama ini terlanjur kita anggap mapan.

“Loh kok begitu? Harusnya kan begini.”

Mendidik orang untuk berpikir berarti menerima kemungkinan bahwa ia akan berpikir berbeda dari kita.

Dan berbeda kan gak otomatis salah.

Tentu tiap gagasan tetap perlu diuji. Kritik tidak otomatis benar. Pengalaman senior tetap sangat berharga dan ga bisa diabaikan.

Tapi ya beda beud antara: “Mari uji gagasanmu.” dengan: “Kamu ngerti apa? Kamu kan belum lama di sini.” (atau kadang ga letter lek begitu, tapi semua gestur mengomunikasikan itu).

Yang pertama adalah proses kaderisasi. Proses menumbuhkan. Yang kedua mematikan proses berpikir.

Ketiga, kita ingin penerus. Tapi apakah kita sedang menyiapkan penerus atau salinan?

Generasi muda hari ini hidup di dunia yang berbeda.

Mereka menghadapi persoalan yang berbeda, teknologi yang berbeda, berkomunikasi dengan cara berbeda, dan menemukan solusi yang dulu gak terpikir oleh generasi muda era 1990-an yang sudah pada beruban ini.

Maka sangat mungkin mereka meneruskan nilai yang sama dengan cara yang berbeda.

Dan bukankah itu yang justru kita inginkan? Pewarisan nilai. Bukan pewarisan cetakan yang harus sama mak plek dengan umi-abi?

Tugas generasi sebelumnya bukan membuat generasi berikutnya menjadi versi muda dari dirinya.

Tugas kita adalah memberi mereka akar yang cukup kuat untuk tumbuh dengan bentuknya sendiri.

Ada kalimat KH Rahmat Abdullah yang sangat relevan di buku “Untukmu Kader Dakwah”.

“Kader harus menerima jabatan sebagai amanah. Menyikapi binaan dengan benar yaitu sekiranya mereka lebih berpotensi, harus diakui.”

Ini menarik.

Karena salah satu tanda kematangan justru kemampuan mengakui potensi orang yang berada di bawahnya.

Bukan merasa terancam ketika orang lain tumbuh.

Tapi yang mampu berkata: “Dia punya sesuatu yang saya gak punya.”

Lalu memberinya ruang.

Keempat, tapi ini bukan cerita “generasi tua salah, generasi muda benar”.

Generasi muda juga punya sejuta pe-er. Berani berpikir bukan berarti merasa paling tahu.

Berani bertanya bukan berarti jadi nir-adab.

Beda pendapat bukan berarti merendahkan pengalaman yang lebih tua.

Saya juga pernah kasih pelajaran pada si muda yang mungkin merasa kelewat nyaman sampe pada tahap kurang ajar.

Atau para lambe yang lemes banget komen: “Dasar boomer.” “Mak-mak FB.” Sedangkan di seberang sana, generasi senior beranggapan: ah, kalian bocil-bocil belum layak.

Tags: