Tugas Rasul

Secara garis besar, tugas rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua, yakni hamilu risalatid da’wah (mengemban risalah dakwah) dan iqamatu dinillah (menegakkan agama Allah).

Hamilu Risalatid Da’wah (Mengemban Risalah Dakwah)
Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan aktivitas dakwah agar umat manusia ma’rifatul khaliq (mempelajari, mengetahui, dan mengenal Sang Pencipta; Allah Ta’ala) sehingga mereka bersedia beribadah hanya kepada-Nya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 21)

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
“Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?” (QS. Al-Mu’min, 40: 61-62)

Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing manusia tentang kaifiyatul ibadah (tata cara ibadah) kepada Allah Ta’ala.

Di dalam Al-Qur’an kita mendapati berbagai macam perintah ibadah (shalat, zakat, shaum, haji, dll.) yang bersifat global. Adapun tata cara pelaksanaannya secara detail dapat kita ketahui dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tentang bagaimana pelaksanaa shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Al-Bukhari dari Malik bin al-Huwairits).

Tentang bagaimana pelaksanaan haji, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خُذُوْا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ.
“Ambilah dariku manasik hajimu.” (Hr. Ahmad, al-Nasa`i, dan al-Baihaqi)

Secara umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan bahwa pengamalan ibadah di dalam Islam wajib merujuk kepada perintah/contoh dari beliau dan tidak diperkenankan berkreasi sendiri. Dari Ummul Mu’minin Ummu Abdillah Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
‘Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam riwayat lain milik Muslim,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.”

Imam An-Nawawi berkata tentang hadits Man ahdatsa…, sebagai berikut.

“Di dalamnya berisikan dalil bahwa peribadatan, seperti mandi, wudhu, puasa dan shalat, jika dilakukan dengan menyelisihi syariat, maka tertolak atas pelakunya. Kemudian sesuatu yang diambil dengan akad (kesepakatan) yang rusak, maka wajib dikembalikan kepada pemiliknya dan tidak boleh dimilikinya.

Seseorang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya anakku menjadi buruh pada orang ini lalu ia berzina dengan istrinya. Aku mendapatkan kabar bahwa anakku harus dirajam, maka aku menebusnya dengan seratus ekor kambing dan seorang sahaya wanita.” Maka beliau menjawab,

اَلْوَلِيْدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ عَلَيْكَ.
“Sahaya wanita dan kambing dikembalikan kepadamu.” (Muttafaq ‘alaih: al-Bukhari, no. 2724; dan Muslim, no. 1697).”

Sampai disini kutipan dari Imam An-Nawawi.[1]

Ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertugas menyeru manusia agar mengetahui dan mengamalkan Islam sebagai minhajul hayah (pedoman kehidupan).

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran, 3: 19)

Beliau menyeru umat manusia kepada ajaran Islam secara utuh agar dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari di setiap aspek kehidupan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 208)

Pembahasan berkaitan dengan point ini dapat dilihat di dalam madah: Syumuliyatul Islam, Thabi’atul Islam, dan Minhajul Hayah. Silahkan pembaca menyimaknya.

Keempat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan at-tarbiyah (pembinaan) kepada umat; yakni berupa taujihun (pengarahan) dan nashihatun (nasihat) sehingga iman, ilmu, dan amal mereka tumbuh berkembang.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah, 62: 2)

Dengan at-tarbiyah, manusia akan terbimbing menjadi seorang rabbani sebagaimana dikehendaki oleh Allah Ta’ala,

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran, 3: 79)

Tags: