Tugas Rasul

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya…” (HR. Bukhari)

Materi dakwah (maudhu) yang disampaikan kepada umat manusia yang paling utama adalah materi aqidah/tauhid dan ibadah;
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’”. (QS. Al-Anbiya, 21: 25)

Materi akhlakul karimah;

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ
“Bahwasanya aku diutus adalah untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (HR. Ahmad).

Materi hukum/syariat;

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah, 5: 48-50).

Metode dakwah (thariqah) yang digunakan amatlah luas dan lapang; tentu saja dengan memperhatikan hal-hal berikut: terjaganya prinsip, keamanan, dan pertumbuhan dakwah dalam berbagai situasi dan kondisi.
Diantara contoh metode/strategi dakwah yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:

Melakukan metode dakwah sirriyyah (sembunyi-sembunyi) kepada orang-orang yang terseleksi.
Memanfaatkan perlindungan Abu Thalib ketika melaksanakan dakwah jahriyyah (terang-terangan).
Metode pembinaan umat secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Menghindari konfrontasi dan mengambil langkah defensif (bertahan) terhadap orang-orang yang memusuhi dan melakukan tekanan kepada dakwah.
Mengambil kebijakan untuk membolehkan ‘orang-orang lemah’ di kalangan kaum muslimin agar menampakkan ‘kemurtadan’ demi keselamatan jiwa dan menjaga pertumbuhan dakwah.
Memerintahkan pengikutnya hijrah ke Habasyah/Ethiopia (kerajaan Kristen).
Memanfaatkan hukum jiwar (suaka) yang diberlakukan masyarakat musyrik agar memperoleh keselamatan dalam berdakwah dan beribadah (Contoh: Abu bakar mendapat jiwar dari Ibnu Daghnah sehingga ia bebas beribadah tanpa gangguan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat jiwar dari Muth’am bin Adiy sehingga aman kembali ke Makkah setelah dakwahnya ditolak di Thaif).
Mencari pembelaan dari luar basis territorial dakwah (Contoh: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari perlindungan dan pembelaan ke Thaif. Beliau pun mendatangi kabilah-kabilah dari luar Makkah pada saat musim haji untuk memperoleh dukungan dakwah).
Pembahasan lengkap tentang manhaj dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, silahkan merujuk ke buku Manhaj Haraki karya Syaikh Munir Muhammad Ghadban rahimahullah.

Media dakwah (wasail) yang digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun beragam: media lisan, tulisan, mengirimkan duta dakwah, dan lain-lain.
Melalui media lisan berupa kontak individu dan kontak kolektif (misalnya Nabi pernah mengadakan jamuan makan yang mengundang kaum kerabatnya untuk menyampaikan dakwah). Melalui media lisan inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan taklim, diskusi, dialog, dan lain-lain. Sedangkan melalui tulisan, nabi mengirim surat-surat dakwah ke berbagai penguasa yang ada pada saat itu. Nabi pun mengirim duta-duta dakwah yang bertugas mengajarkan risalah Islam ke berbagai kabilah dan wilayah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjalankan tugasnya tersebut dengan sangat luar biasa hingga cahaya Islam menebar ke seluruh penjuru bumi, menerangi kegelapan yang menyesatkan manusia.

Wallahu a’lam.

Tags: