Wahyu Wahyudin: Rute Batam–Penang Harus Jadi Momentum Kebangkitan Pariwisata dan Ekonomi Kepri

KEPRI – Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Wahyu Wahyudin, menyambut rencana pembukaan penerbangan langsung Batam–Penang oleh Batik Air yang dijadwalkan mulai 18 Oktober 2026. Rute baru ini dinilai membuka peluang untuk memperkuat konektivitas regional sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata dan perekonomian Kepri.

Wahyu mengatakan, penerbangan langsung dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 25 menit dan frekuensi tiga kali sepekan tersebut berpotensi mempermudah mobilitas masyarakat, termasuk warga yang membutuhkan akses layanan kesehatan di Penang, Malaysia.

Selain itu, konektivitas udara ini diharapkan dapat mempererat hubungan sosial dan budaya, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membuka peluang kerja sama di bidang perdagangan dan investasi antara Kepri dan Malaysia.

Namun, menurut Wahyu, pembukaan rute penerbangan baru tidak seharusnya hanya diukur dari bertambahnya jumlah penerbangan maupun penumpang. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana konektivitas tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

“Kita tidak boleh hanya bangga karena memiliki rute penerbangan baru. Yang lebih penting adalah bagaimana rute ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kepri,” ujarnya.

Ia mendorong Pemerintah Provinsi Kepri, pemerintah kabupaten dan kota, pengelola Bandara Internasional Hang Nadim, pelaku usaha pariwisata, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal.

Menurutnya, diperlukan langkah konkret melalui promosi pariwisata terpadu, penyusunan paket wisata yang menarik, penguatan promosi destinasi lokal, peningkatan kualitas pelayanan, hingga penyediaan transportasi dari bandara menuju kawasan wisata yang mudah diakses dan terjangkau.

Dengan upaya tersebut, wisatawan dari Malaysia diharapkan tidak hanya menjadikan Batam sebagai tempat transit, tetapi juga tertarik mengunjungi berbagai destinasi wisata di Kepri dan membelanjakan uangnya di daerah tersebut.

Wahyu juga menyoroti potensi wisata medis atau medical tourism yang dapat berkembang seiring dengan terbukanya akses penerbangan langsung Batam–Penang.

Ia menilai, kemudahan akses menuju Penang menjadi salah satu manfaat bagi masyarakat Kepri yang membutuhkan layanan kesehatan di Malaysia. Meski demikian, kondisi tersebut juga perlu menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di dalam negeri.

“Kita harus melihat potensi wisata medis secara dua arah. Masyarakat yang berobat ke Penang perlu mendapatkan kemudahan akses, tetapi pada saat yang sama kita harus memperkuat kualitas layanan kesehatan di Kepri agar masyarakat memiliki pilihan pelayanan medis yang semakin baik di daerah sendiri,” katanya.

Menurut Wahyu, peningkatan kualitas fasilitas kesehatan, kompetensi tenaga medis, dan mutu pelayanan menjadi bagian penting agar masyarakat Kepri memiliki alternatif layanan kesehatan yang berkualitas tanpa harus selalu bepergian ke luar negeri.

Di sisi lain, ia berharap konektivitas baru tersebut dapat menarik wisatawan, pasien, investor, dan pelaku usaha dari Malaysia untuk datang ke Kepri. Dengan demikian, arus perjalanan tidak hanya didominasi masyarakat Kepri yang bepergian ke luar negeri, tetapi juga diimbangi dengan kedatangan pengunjung dari negara tetangga.

“Jangan sampai pesawatnya penuh membawa warga Kepri ke luar negeri, tetapi kursi yang kembali ke Batam justru kosong. Konektivitas harus menciptakan keseimbangan arus kunjungan dan perputaran ekonomi,” tegasnya.

Wahyu menegaskan, keberhasilan rute Batam–Penang perlu diukur melalui indikator yang lebih luas daripada sekadar statistik penerbangan.

Indikator tersebut antara lain peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, pertumbuhan omzet UMKM, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya investasi, serta bertambahnya pendapatan asli daerah (PAD).

Ia menilai, konektivitas udara merupakan salah satu instrumen pembangunan ekonomi yang perlu diikuti dengan kebijakan dan program pendukung agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, pengelola bandara, pelaku pariwisata, sektor kesehatan, dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan potensi rute tersebut.

“Prinsipnya, konektivitas udara bukan sekadar urusan transportasi, melainkan instrumen pembangunan ekonomi. Kita ingin Kepri menjadi pintu gerbang pariwisata, perdagangan, dan layanan kesehatan yang kompetitif di kawasan regional,” ujarnya.

Wahyu berharap pembukaan rute Batam–Penang tidak berhenti sebagai penambahan jalur penerbangan, tetapi menjadi peluang untuk memperluas aktivitas ekonomi, memperkuat daya saing daerah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Riau.***

Tags:,