Oleh: @ambu_eka
Pendidikan keluarga bukan sekadar tentang bagaimana membuat anak patuh terhadap perintah orang tua. Lebih dari itu, pendidikan bertujuan membentuk manusia yang beriman, berakhlak, bertanggung jawab, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan dengan sehat dan matang.
Namun, dalam praktik pengasuhan sehari-hari, ada hal yang kerap luput dari perhatian: keinginan mendisiplinkan anak terkadang membuat orang tua mengabaikan perasaan dan kebutuhan emosionalnya.
Anak yang diam setelah dimarahi belum tentu memahami kesalahannya. Anak yang selalu menurut belum tentu melakukannya karena kesadaran. Bisa jadi, ia sekadar ingin menghindari kemarahan atau kekecewaan orang tuanya.
Tentu, tidak setiap teguran keras akan menyebabkan gangguan mental. Orang tua juga manusia yang bisa lelah, kecewa, dan melakukan kesalahan. Namun, ketika bentakan, penghinaan, ancaman, atau perbandingan yang merendahkan menjadi pola berulang, ada risiko yang perlu diperhatikan.
Mendidik anak tanpa merusak mentalnya bukan berarti membebaskan anak dari aturan. Ini tentang membangun kedisiplinan tanpa merendahkan martabat, menegakkan batasan tanpa menghilangkan rasa aman, serta mengajarkan tanggung jawab tanpa mengabaikan kasih sayang.
Islam Mengajarkan Pendidikan yang Tegas Sekaligus Penuh Hikmah
Al-Qur’an memberikan contoh pendidikan keluarga melalui nasihat Luqman kepada anaknya. Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’”
(QS. Luqman: 13, terjemahan Kementerian Agama RI)
Nasihat Luqman dimulai dengan panggilan penuh kedekatan, yaa bunayya, yang berarti “wahai anakku”. Di saat yang sama, pesan yang disampaikan sangat tegas karena menyangkut fondasi akidah.
Pada ayat-ayat berikutnya, nasihat Luqman mencakup berbakti kepada orang tua, kesadaran bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan, mendirikan salat, mengajak kepada kebaikan, bersabar, dan menjaga kesopanan dalam kehidupan sosial.
Rangkaian nasihat tersebut memperlihatkan keluasan pendidikan dalam Islam. Anak tidak hanya diajarkan untuk mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga dibimbing untuk membangun kesadaran, menjalankan tanggung jawab, dan menjaga perilakunya.
QS. Luqman ayat 13–19 memang tidak secara khusus membahas istilah kesehatan mental modern. Namun, kisah tersebut memberikan landasan nilai bahwa pendidikan keluarga mencakup pembentukan akidah, akhlak, tanggung jawab, dan perilaku sosial.
Artinya, ketegasan orang tua tidak harus diwujudkan dengan penghinaan atau ancaman. Prinsip tetap dapat dipertahankan, sementara cara menyampaikannya disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan anak.
Belajar dari Rasulullah ﷺ: Tidak Merendahkan dalam Proses Membimbing
Teladan Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran penting tentang cara memperlakukan orang yang berada dalam bimbingan kita.
Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari nomor 6038, Anas bin Malik RA menceritakan bahwa ia melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Anas menyampaikan bahwa Rasulullah tidak pernah mengatakan “uff” kepadanya dan tidak mencelanya dengan pertanyaan, “Mengapa engkau melakukan itu?” atau “Mengapa engkau tidak melakukannya?”
Kisah ini perlu dipahami secara tepat, Anas adalah seorang sahabat muda yang melayani Rasulullah, bukan anak kandung beliau. Meski demikian, pengalaman Anas memperlihatkan teladan akhlak Rasulullah dalam berinteraksi dengan orang yang lebih muda dan berada dalam bimbingannya.
Rasulullah tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk terus-menerus mencela. Sikap tersebut mengajarkan pentingnya pengendalian diri ketika menghadapi kekurangan orang lain.
Teladan kasih sayang juga tampak dalam hadis riwayat al-Bukhari nomor 5997. Ketika Rasulullah ﷺ mencium Hasan bin Ali RA, Al-Aqra’ bin Habis menyampaikan bahwa ia tidak pernah mencium seorang pun dari sepuluh anaknya. Rasulullah kemudian bersabda:
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
Kedua hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa kasih sayang dan akhlak yang baik memiliki tempat penting dalam hubungan antarmanusia, termasuk dalam proses mendidik.
Kasih sayang bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Sebaliknya, kasih sayang menjadi landasan agar nasihat, koreksi, dan disiplin tidak berubah menjadi tindakan yang merendahkan.
Orang tua tetap perlu mengingatkan anak ketika melakukan kesalahan. Namun, mengingatkan berbeda dengan mempermalukan, sebagaimana mendisiplinkan berbeda dengan melampiaskan kemarahan.
Penelitian Mengingatkan Pentingnya Pola Asuh yang Positif
Pembahasan mengenai pengasuhan tidak hanya bertumpu pada nilai agama. Penelitian ilmiah juga menunjukkan pentingnya hubungan orang tua dan anak dalam mendukung kesejahteraan keluarga.
Tags:















