Mendidik Anak Tanpa Merusak Mentalnya: Tegas dalam Prinsip, Lembut dalam Memperlakukan

World Health Organization (WHO), melalui WHO Guidelines on Parenting Interventions to Prevent Maltreatment and Enhance Parent–Child Relationships with Children Aged 0–17 Years, yang diterbitkan pada 2023, merekomendasikan program pengasuhan berbasis bukti untuk mengurangi perlakuan keras terhadap anak, memperkuat hubungan orang tua dan anak, serta mencegah masalah kesehatan mental dan perilaku.

Pedoman tersebut disusun berdasarkan tinjauan bukti ilmiah, termasuk penelitian mengenai intervensi pengasuhan pada berbagai kelompok usia.

Salah satu tinjauan bukti yang menjadi dasar pedoman WHO menunjukkan bahwa program pengasuhan yang diteliti kemungkinan dapat mengurangi perlakuan keras terhadap anak, meningkatkan pola pengasuhan positif, dan menurunkan sejumlah masalah perilaku anak. Besarnya manfaat dapat berbeda menurut usia, konteks keluarga, dan jenis intervensi.

WHO juga menjelaskan dalam lembar fakta tentang hukuman fisik bahwa hukuman tersebut berkaitan dengan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental, perkembangan sosial-emosional, perilaku, serta hubungan anak dengan orang tua.

Temuan tersebut tidak berarti bahwa satu kali teguran atau kemarahan otomatis membuat seorang anak mengalami gangguan mental. Hubungan antara pengasuhan dan perkembangan anak dipengaruhi banyak faktor.

Namun, bukti ilmiah memberikan alasan kuat bagi orang tua untuk mengevaluasi pola disiplin yang berulang kali melibatkan kekerasan, penghinaan, atau perlakuan yang merendahkan.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Apakah anak sudah berhenti melakukan kesalahan?” tetapi juga, “Apakah anak memahami kesalahannya, belajar bertanggung jawab, dan tetap memiliki hubungan yang aman dengan orang tuanya?”

Lima Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

1. Koreksi perilaku anak, bukan harga dirinya

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu menjelaskan apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya.

Kalimat seperti, “Kamu memang anak nakal dan tidak pernah bisa diatur,” memberi label negatif kepada pribadi anak. Sebaliknya, kalimat, “Perbuatanmu tadi tidak tepat. Mari kita cari cara untuk memperbaikinya,” berfokus pada perilaku yang perlu diubah.

Perbedaan ini penting. Anak perlu belajar bahwa tindakannya dapat salah tanpa harus merasa bahwa dirinya tidak berharga.

2. Tetapkan aturan yang jelas dan konsisten

Anak membutuhkan batasan. Aturan mengenai adab berbicara, tanggung jawab di rumah, waktu belajar, istirahat, dan penggunaan gawai perlu disesuaikan dengan usia serta kebutuhan anak.

Orang tua sebaiknya menjelaskan alasan di balik aturan dan menerapkan konsekuensi yang masuk akal serta proporsional.

Anak tidak harus selalu menyukai sebuah aturan. Namun, ia perlu memahami bahwa aturan tersebut dibuat untuk tujuan yang jelas, bukan sekadar mengikuti suasana hati orang tua.

Ketegasan bukan berarti orang tua harus selalu menang dalam perdebatan. Ketegasan berarti mampu menjaga prinsip dan konsistensi tanpa kehilangan kendali atas perkataan maupun tindakan.

3. Dengarkan perasaan anak tanpa harus menyetujui semua keinginannya

Anak dapat merasa kecewa, sedih, takut, atau marah ketika menghadapi batasan. Perasaan tersebut tidak selalu berarti anak sedang membangkang.

Orang tua dapat mengakui perasaannya sekaligus mempertahankan keputusan.

Misalnya, “Ibu tahu kamu kecewa karena waktu bermain sudah selesai. Kamu boleh merasa kecewa, tetapi kita tetap mengikuti kesepakatan.”

Dengan pendekatan ini, anak belajar bahwa perasaannya dapat disampaikan dengan baik, sementara perilakunya tetap memiliki batasan.

4. Hindari menjadikan perbandingan sebagai alat motivasi

“Lihat temanmu, dia bisa. Kenapa kamu tidak?”

Kalimat semacam ini mungkin dimaksudkan untuk mendorong anak agar lebih baik. Namun, jika terus diulang, perbandingan dapat mengalihkan perhatian anak dari proses belajar menuju upaya mendapatkan pengakuan.

Lebih baik, orang tua membantu anak mengenali perkembangan dirinya sendiri: apa yang sudah dikuasai, apa yang masih sulit, dan apa yang bisa diperbaiki.

Setiap anak memiliki kebutuhan dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Tugas orang tua adalah membimbing proses tersebut, bukan menjadikan anak lain sebagai ukuran harga diri anaknya.

5. Berani meminta maaf ketika orang tua melakukan kesalahan

Orang tua tidak selalu mampu merespons setiap situasi dengan sempurna. Ada kalanya kelelahan membuat seseorang berbicara terlalu keras atau mengambil keputusan yang kurang tepat.

Ketika itu terjadi, orang tua dapat mengakui kesalahannya tanpa menghilangkan tanggung jawab anak.

Misalnya, “Tadi Ibu berbicara terlalu keras. Ibu minta maaf. Perbuatanmu tetap perlu diperbaiki, tetapi Ibu seharusnya menyampaikannya dengan lebih baik.”

Tags: