Sifat-sifat Rasul

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sifat-sifat kerasulan, diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, al-basyariyyatul kamilah (kemanusiaan seutuhnya).

Sebagaimana telah disebutkan di pembahasan sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa seperti manusia yang lainnya; ia bukan bangsa malaikat atau jin, bukan manusia setengah malaikat, dan bukan manusia setengah jin. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bangsa manusia seutuhnya; memiliki jasad seperti manusia pada umumnya, dan memiliki perasaan seperti manusia yang lainnya. Beliau makan, minum, pergi ke pasar, beristeri, berniaga dan lain sebagainya sebagaimana layaknya manusia.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rasul lainnya sama sekali tidak berkuasa mendatangkan ayat, petunjuk, mukjizat, keajaiban-keajaiban, atau apa pun namanya—kecuali dengan izin Allah Ta’ala.

قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: ‘Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah.’” (QS. Ibrahim, 14: 11)

Kedua, al-‘ishmah (terpelihara dari kesalahan dan dosa)

Karena memiliki sifat basyariyyah (kemanusiaan), maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mungkin saja pernah berbuat salah atau keliru, tetapi kesalahannya itu akan segera diluruskan oleh Allah Ta’ala sehingga beliau terpelihara dari berlarut-larut dalam kesalahan dan dosa. Inilah yang disebut sifat ishmah (dijaga, dilindungi, dicegah, dan dikendalikan oleh Allah Ta’ala sehingga terhindar dari kesalahan dan dosa).

Salah satu contoh ishmah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah peristiwa yang pernah terjadi kepada beliau sebagaimana dimuat di awal surat At-Tahrim.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim, 66: 1)

Allah Ta’ala menegur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau bersumpah tidak akan meminum lagi madu, padahal madu itu adalah minuman halal. Sebabnya hanyalah karena menghendaki kesenangan hati istri-istrinya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari `Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu suka yang manis-manis dan senang madu. Di kala beliau kembali pada waktu Ashar, beliau pergi ke rumah istrinya. Waktu itu beliau tinggal pada Zainab binti Jahasy dan minum madu di sana. Maka bersepakatlah `Aisyah dengan Hafsah bahwa siapa saja di antara mereka berdua didatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendaklah ia berkata kepadanya: “Saya mencium dari engkau Ya Rasulullah bau magafis (yaitu buah karet yang rasanya manis tetapi baunya busuk). Apakah engkau memakan magafis?”

Ketika pertanyaan itu disampaikan kepada Nabi, beliau menjawab: “Tidak, tetapi saya hanya meminum madu di rumah Zainab binti Jahasy. Kalau begitu, saya tidak akan mengulangi lagi dan saya telah bersumpah.” Hal ini, ditegaskan di muka Hafsah karena kebetulan Hafsahlah yang didatangi. Maka Hafsah memberitahukan kepada Aisyah kejadian itu. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat merahasiakannya.

Ketiga, as-shidqu (jujur).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersifat jujur. Beliau tidak berdusta tentang apa yang diwahyukan kepadanya dari Allah Ta’ala,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ – إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm, 53: 3-4)

Bahkan seluruh apa yang diucapkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sesuatu yang benar. Hal ini tergambar dari apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Amr,

كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ عَنْ ذَلِكَ وَقَالُوا تَكْتُبُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ حَتَّى ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ
“Aku selalu mencatat segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam agar aku bisa menghapalnya. Kemudian orang-orang Quraisy berusaha menghalang-halangi, mereka berkata, ‘Kau menulis sementara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam (terkadang) mengatakannya pada saat marah atau ridha,’ Maka aku pun berhenti (menulis dari beliau) hingga aku mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, ‘Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah keluar dari (mulut) ini kecuali Al-Haq.’” (Musnad Ahmad 2/163)

Keempat, al-fathanah (cerdas)

Dalam menjalankan tugasnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibekali oleh Allah Ta’ala sifat fathanah (cerdas), sehingga dapat menjelaskan wahyu Allah Ta’ala kepada seluruh umat manusia dengan sebaik-baiknya,

Tags: