Namun, pada suatu malam, konon terdengar suara dari meriam tersebut. Suara itu dipercaya masyarakat sebagai tangisan Meriam Sumbing yang ingin turut serta dalam peperangan bersama meriam lainnya.
Kisah tersebut kemudian membuat pasukan dari Lingga sepakat membawa meriam itu ke medan pertempuran. Di luar dugaan, dalam cerita yang diwariskan tersebut, Meriam Sumbing disebut mampu memberikan kontribusi dalam peperangan.
Meriam itu dikisahkan terus melontarkan tembakan hingga bagian ujungnya pecah. Kerusakan pada ujung meriam itulah yang kemudian diyakini menjadi asal-usul nama Meriam Sumbing.
Meski bagian ujungnya telah pecah, meriam tersebut konon tetap digunakan dalam pertempuran. Kisah tentang tangisannya sebelum perang pun terus hidup sebagai bagian dari cerita rakyat yang melekat pada peninggalan sejarah Pulau Mepar.
Benteng Lekok, Saksi Pertahanan Pulau Mepar
Selain Meriam Sumbing, pengunjung juga dapat menjumpai Benteng Lekok yang berada di atas bukit Pulau Mepar. Benteng ini menghadap langsung ke arah Tanjung Buton dan menjadi salah satu peninggalan pertahanan bersejarah di kawasan tersebut.
Tags:Ligga, Meriam Sumbing, Pulau Mepar














