Oleh: Suryani, S.E., M.I.Kom.
Ketua DPW PKS Kepulauan Riau
Peradaban besar tidak pernah dibangun oleh satu kelompok saja. Di balik kemajuan sebuah bangsa, selalu ada peran perempuan yang bekerja, mendidik, menguatkan, menggerakkan, bahkan memimpin perubahan. Ada yang hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan, ada yang berjuang melalui pendidikan dan pelayanan kesehatan, ada yang menggerakkan ekonomi keluarga, dan ada pula yang bekerja dalam senyap, menanamkan nilai-nilai kebaikan bagi generasi penerus.
Karena itu, membicarakan masa depan bangsa tanpa memberikan ruang yang memadai bagi perempuan berarti mengabaikan salah satu kekuatan penting pembangunan.
Kehadiran Perempuan Adil Sejahtera (PAS) sebagai sayap baru Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang kepengurusan tingkat pusatnya dilantik pada 19 Oktober 2026 di Ballroom 3, Hotel Pullman Jakarta Central Park, Jakarta, saya pandang sebagai momentum untuk memperluas ruang partisipasi, memperkuat kapasitas, dan mengonsolidasikan potensi perempuan agar semakin berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
Saya menyampaikan apresiasi atas terbentuknya wadah ini. Harapan saya, PAS tidak sekadar menjadi organisasi dengan struktur kepengurusan, tetapi tumbuh sebagai ruang kolaborasi yang produktif, tempat perempuan saling menguatkan, bertukar gagasan, mengembangkan kapasitas, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Bagi saya, perempuan bukan hanya objek pembangunan. Perempuan adalah subjek, pelaku, sekaligus mitra strategis dalam menentukan arah kemajuan bangsa.
Jejak Perempuan dalam Sejarah Peradaban
Sejarah mengajarkan bahwa perempuan telah mengambil peran penting dalam perjalanan peradaban manusia. Dalam sejarah Islam, kita menemukan banyak teladan tentang keberanian, kecerdasan, keteguhan, dan kontribusi perempuan dalam perjuangan dakwah Rasulullah Muhammad SAW.
Khadijah binti Khuwailid, misalnya, merupakan sosok yang memberikan dukungan moral dan material pada masa-masa awal dakwah Rasulullah SAW. Keteguhan dan kepercayaannya menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah yang penuh tantangan.
Aisyah binti Abu Bakar memberikan kontribusi besar dalam periwayatan hadis dan pengembangan pengetahuan Islam. Melalui ilmu yang dimilikinya, ia menjadi salah satu rujukan penting bagi umat dalam memahami ajaran Islam.
Kita juga mengenal Nusaibah binti Ka’ab, yang dalam sejumlah riwayat sejarah Islam dikenal turut membela Rasulullah SAW dalam Perang Uhud. Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa perempuan memiliki ruang pengabdian yang luas, sesuai dengan kemampuan, keadaan, dan kebutuhan zamannya.
Pelajaran penting dari sejarah ini adalah bahwa kemuliaan perempuan tidak semata-mata diukur dari peran domestik maupun publiknya, melainkan juga dari kontribusi, keteguhan nilai, ilmu, dan kemanfaatan yang diberikan bagi sesama.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat pengabdian ter sebut dapat diterjemahkan melalui berbagai jalan: membangun keluarga yang kuat, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperjuangkan keadilan, memperluas pelayanan sosial, dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Dari Perjuangan Melawan Kolonialisme hingga Indonesia Merdeka
Sejarah Indonesia juga menyimpan jejak panjang perjuangan perempuan. Mereka tidak tinggal diam ketika tanah air berada di bawah penjajahan.
Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia dikenang karena perjuangan mereka melawan kolonialisme di Aceh. Martha Christina Tiahahu menjadi salah satu figur perempuan dalam perlawanan terhadap Belanda di Maluku. Sementara itu, R.A. Kartini dan Dewi Sartika memperjuangkan kemajuan perempuan melalui pendidikan.
Jalan perjuangan mereka berbeda-beda, tetapi memiliki semangat yang sama: memberikan kontribusi bagi kehidupan yang lebih baik.
Ada perempuan yang mengangkat senjata, ada yang membuka jalan pendidikan, ada yang menggerakkan masyarakat, dan ada yang menguatkan p erjuangan melalui kerja-kerja sosial. Mereka menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga di ruang kelas, lingkungan keluarga, pusat pelayanan masyarakat, dan berbagai ruang kehidupan lainnya.
Semangat itulah yang perlu kita rawat hari ini. Tantangan zaman memang berubah, tetapi kebutuhan akan perempuan yang berilmu, berintegritas, berdaya, dan berani mengambil tanggung jawab tetap relevan.
Jika dahulu perjuangan diarahkan untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme, hari ini kita menghadapi tantangan lain: ketimpangan kesempatan, kualitas pendidikan, persoalan kesehatan, tekanan ekonomi keluarga, perubahan teknologi, kerusakan lingkungan, hingga kebutuhan akan kebijakan publik yang lebih responsif terhadap masyarakat.
Perempuan perlu hadir sebagai bagian dari solusi atas tantangan-tantangan tersebut.
Perempuan Masa Kini: Berkiprah, Berkarya, dan Memimpin















