Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Katakanlah: ‘Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk’”. (QS. Al-A’raf, 7: 158)
Bahkan syahadat La Ilaha Illa-Llah pun adalah merupakan hakikat dakwah para rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu’” (QS. An-Nahl, 16: 36)
Juga firman-Nya,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’” (QS. Al-Anbiyaa: 25)
Secara rinci Al-Qur’an menjelaskan pula bahwa ajakan kepada kalimat La Ilaha Illa-Llah inilah yang diserukan Nabi Nuh (lihat: QS. Al-A’raf, 7: 59), Nabi Hud (lihat: QS. Al-A’raf, 7: 65), Nabi Shalih (lihat: QS. Al-A’raf, 7: 73), Nabi Syu’aib (lihat: QS. Al-A’raf, 7: 85), dan lain-lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang hakikat dakwah yang diembannya,
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, terperihalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisab mereka kepada Allah.” (Bukhari Muslim).
Yang dimaksud dengan kalimat: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia..” disini adalah perintah memerangi para penyembah berhala. (Lihat: Terjemah Syarah Arbain Nawawiyah, Dr Musthafa Al-Buqha, Rabbani Press hal. 67).
Syaikh Ismail Al-Anshari menjelaskan: “Makna ‘manusia’ (dalam hadits ini, red.) yaitu kaum musyrikin selain ahli kitab, sesuai riwayat Imam An Nasa’i, “Aku diperintah untuk memerangi kaum musyrikin sampai mereka bersaksi tiada Ilah selain Allah,” riwayat ini menjelaskan makna kalimat ini.” (Tuhfah Rabbaniyah, syarah No. 8)
Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id rahimahullah mengatakan: “Al-Khathabi dan lainnya mengatakan: maksudnya adalah para penyembah berhala dan kaum musyrikin Arab dan orang yang tidak beriman kepada Allah selain Ahli Kitab dan yang mengikrarkan tauhid.” (Syarah Al-Arbain An-Nawawiyah, Hal. 54, Maktabah Al-Misykah)
Kelima, syahadatain penting karena ia mengandung fadhailun ‘adzimah (keutamaan yang agung).
Siapa saja yang beriman kepada kalimat syahadat, maka ia akan memperoleh kebaikan yang besar. Ali Juraisyah menyatakan bahwa dengan mengucapkan kalimat syahadat seseorang akan mendapatkan dua keuntungan: keuntungan duniawi dan keuntungan ukhrawi.
Keuntungan di dunia adalah ia diakui sebagai seorang muslim, sehingga darah dan hartanya terlindungi. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dalam point keempat di atas.
Sepatah kalimat (syahadatain) saja sudah cukup untuk melindungi darah dan harta seseorang, dan sekaligus memasukkannya ke dalam Islam. Kita tidak diperintahkan untuk membedah dada seseorang untuk mengetahui isi hatinya,
إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا أَشُقَّ بُطُونَهُمْ
“Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk memeriksa isi hati manusia dan membelah perut mereka” (HR Al-Bukhari)
Oleh karena itu, Nabi pernah menegur Usamah bin Zaid dengan keras karena telah membunuh seseorang dalam peperangan, padahal orang tersebut telah mengucapkan Laa ilaaha illallah.
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَهَذَا حَدِيثُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ قَالَ أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ
Dari Usamah bin Zaid ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami bersama pasukan kecil maka kami pun menyerang beberapa dusun dari qobilah Juhainah, maka Aku pun berhadapan dengan seseorang, dia mengucapkan la ilaha illallah, namun Aku tetap menikamnya. Namun setelah itu Aku merasa tidak enak akan hal itu maka akupun menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah ia mengucapkan la ilha illallah lantas engkau tetap membunuhnya?’. Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, dia mengucapkannya hanya karena takut pedangku!’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Mengapa engkau tidak membelah hatinya hingga engkau tahu bahwa dia mengucapkannya karena takut atau tidak!?’. Berkata Usamah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulang-ulang perkataannya kepadaku itu hingga aku berangan-angan seandainya aku baru masuk Islam saat itu” (HR Muslim 1/96)
Tags:
















