Dua kalimat syahadat –asyhadu an la ilaha illa-Llah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah -memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam karena:
Pertama, ia adalah madkhalun ilal Islam (pintu gerbang masuk ke dalam Islam).
Syahadatain adalah pilar Islam yang pertama. Oleh karena itu, syarat utama bagi seorang non muslim yang akan masuk Islam adalah mengucapkan syahadatain; mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta’ala, serta mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang diberi amanah untuk menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia.
Hal ini kita ketahui dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (pilar): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”. (HR Bukhari, no. 8).
Juga dari hadits yang menyebutkan arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Muadz bin Jabal yang akan pergi melaksanakan tugas dakwah ke Yaman,
إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ طَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
“Engkau akan mendatangi kaum ahli kitab; apabila engkau telah sampai kepada mereka maka serulah mereka untuk bersaksi bahwa tidak Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Jika mereka ta’at untuk itu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka ta’at untuk itu, maka beritahukanlah bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat harta mereka, di ambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang yang miskin dari mereka. Jika mereka taat untuk itu, maka hati-hatilah engkau dari mengambil harta milik mereka yang paling baik, takutlah engkau dengan do`anya orang dizhalimi, sebab antara ia dengan Allah tidak ada yang menghalanginya.” (HR. Bukhari)
***
Mengapa mengucapkan dua kalimat syahadat ini sangat penting bagi seorang non muslim yang akan masuk Islam? Berikut penjelasannya secara ringkas:
Perlu dipahami bahwa untuk menjadi seorang muslim, seorang manusia harus benar-benar menjaga keimanannya agar sesuai dengan tuntutan fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala, yaitu mengimani rububiyyah-Nya—mengakui Allah Ta’ala sebagai Rabb, Tuhan Yang Menciptakan, Memiliki, Memberi Rizki, dan Mengatur segala urusan.[1]
Konsekuensi dari pengakuan terhadap ar-rububiyyah ini adalah pengakuan terhadap al-uluhiyyah Allah Ta’ala, yakni mengakui dan melakukan peribadahan hanya kepada-Nya, serta mengakui pula Ar-risalah (ajaran) yang diturunkan kepada rasul-Nya.
Dengan kata lain, untuk menjadi muslim, seorang manusia harus mengakui ar-rububiyyah, al-uluhiyyah, dan ar-risalah tanpa terpisahkan. Sedangkan non muslim, mereka hanya mengakui rububiyyah Allah Ta’ala dan tidak mengakui uluhiyyah serta risalah-Nya.
Pemisahan antara pengakuan terhadap rububiyyah Allah Ta’ala dengan pengakuan terhadap uluhiyyah Allah Ta’ala ini dikecam dan tidak diridhai oleh-Nya. Perhatikanlah firman-Nya berikut ini,
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS. Al-Ankabut, 29: 61)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. Al-Ankabut, 29: 63)
قُلْ لِمَنِ الأرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَذَكَّرُونَ قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ
“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka dari jalan manakah kamu ditipu?”(QS. Al-Mu’minun, 23: 84-89).
Melalui ayat-ayat di atas, Allah Ta’ala mengecam sikap non muslim yang mengakui Allah Ta’ala sebagai Pencipta dan Pemilik langit dan bumi serta Pengatur matahari dan bulan, menurunkan hujan, tapi enggan menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya yang berhak diibadahi.
Tags:
















