Pentingnya Dua Kalimat Syahadat

Allah Ta’ala juga mengecam orang-orang yang mengakui al-uluhiyyah dan ar-rububiyyah, namun tidak mengakui ar-risalah. Sebagai contoh adalah orang-orang Yahudi yang mengakui ketauhidan- meliputi uluhiyyah dan rububiyyah-Nya -namun tidak mau mengakui risalah-Nya yang terakhir, yakni risalah dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Muhammad): ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran, 3: 31)

Jadi, selain mengakui Allah Ta’ala sebagai Pencipta, Pemilik, Pemberi rizki, dan Pengatur segala urusan, seorang manusia pun harus mengakui Allah Ta’ala sebagai satu-satunya ilah (sesembahan) yang hak dan mengakui kerasulan/risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesimpulannya, seorang non muslim yang kembali kepada Islam tidak akan diakui sah keislamannya jika tidak mengikrarkan dua kalimat syahadat, yakni pengakuan Allah sebagai Ilah (syahadah uluhiyyah) dan pengakuan Muhammad sebagai pembawa risalah Allah (syahadah risalah).

***

Kedua, syahadatain penting karena ia adalah khulashatu ta’alimil Islam (intisari ajaran Islam).

Intisari ajaran Islam mencakup dua hal: (1) Ajaran al-ibadatu lillah (ibadah kepada Allah) baik secara fardiyyan (individu) maupun jama’iyyan (kolektif).[2] Ajaran ini terkandung dalam kalimat syahadat: La Ilaha Illa-Llah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’”. (QS. Al-Anbiya, 21: 25)

(2) Ajaran agar al-ibadah yang dilakukan itu disesuaikan dengan manhajullah (ketentuan syariat Allah),

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah, 45: 18)

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan syariat (aturan) dan minhaj (jalan yang terang).” (QS. Al-Maidah, 5: 48)

Mengamalkan manhajullah tersebut dilakukan dengan cara mengikuti qudwatur rasul (contoh teladan rasul). Ajaran ini terkandung dalam kalimat syahadat: Muhammadur Rasulullah.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran, 3: 31)

Ketiga, syahadatain itu penting karena ia adalah asasul inqilab (fondasi perubahan), fardiyyan (individu) maupun ijtima’iyyah (kemasyarakatan).

Lihatlah apa yang terjadi kepada bangsa Arab di masa lalu. Sebelum kedatangan Islam, mereka berada dalam kondisi jahiliyyah, yakni tidak memiliki ma’rifah (pengetahuan) tentang agama yang benar. Mereka tidak mengenal Sang Pencipta; tidak mengetahui bagaimana mengabdi kepada-Nya, dan tidak terbimbing dengan pola kehidupan yang teratur yang diridhai oleh-Nya.

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِي
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dengan perintah Kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al kitab (Al–Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, dan sesungguhnya Kami benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura, 42: 52)

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat untukmu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”( QS. Al-Baqarah, 2: 151)

Berawal dari kesadaran terhadap makna syahadatain, bangsa Arab kemudian berubah menjadi bangsa yang mulia -menjadi khairu ummah-. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang sadar akan eksistensi dirinya sebagai hamba-hamba Allah yang mengemban misi agung dalam kehidupannya.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran, 3: 110)

Mereka menjadi pemegang kendali peradaban karena spirit La Ilaha Illa-Llah Muhammadur rasulullah senantiasa berkobar di dalam dada-dada mereka. Mereka menyeru seluruh umat manusia agar menghambakan diri kepada Allah Ta’ala dan menjalankan syariat-Nya seperti diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keempat, syahadatain penting karena ia adalah haqiqatu da’watir rasuli shallallahu ‘alaihi wa sallam (hakikat dakwah Rasulullah).

Tags: