Bismillah…
Semoga Allah menjaga mereka.
Sebab, salah satu hal terberat menjadi kader PKS adalah merelakan sebagian waktu bersama keluarga demi memenuhi panggilan dakwah.
Namun justru dari sanalah aku berharap anak-anak belajar tentang arti perjuangan.
Selama mengikuti LATANSA, kami menjalani berbagai amanah.
Berkenalan dengan penghuni satu tenda dari berbagai daerah.
Menjadi ketua regu.
Memandu doa.
Berdiri hampir dua jam di bawah terik matahari saat upacara.
Malam harinya kami tidur beralas matras, ditemani cahaya senter yang dinyalakan bergantian agar baterai tetap hemat.
Malam terasa begitu singkat.
Kami bangun untuk tahajud bersama di tepi pantai.
Angin malam Batam berembus pelan.
Gerah memang.
Namun hati kami justru terasa basah oleh munajat.
Tangis pecah dalam doa.
Memohon ampun atas dosa-dosa.
Memohon agar Allah menjaga keluarga, sahabat seperjuangan, umat Islam, negeri Indonesia, dakwah ini, dan para pemimpin kami.
LATANSA, seperti namanya, benar-benar menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Zikir bersama.
Salat berjamaah.
Saling bersalaman.
Semangat perjuangan.
Hangatnya ukhuwah.
Tags:Kepri, Latansa, Muharrikah Romadoniyah
















