Ya Rabb…
Rasanya ingin berteriak kegirangan. Akhirnya ada kesempatan mengasah kembali hati yang mulai kehilangan kepekaan.
Membayangkan hidup sederhana, tidur tanpa kasur empuk, tanpa AC, bahkan tanpa kipas angin. Bersiap menghadapi kemungkinan tenda basah atau bahkan roboh jika hujan badai datang.
Setidaknya, semoga melalui pengalaman sederhana itu aku bisa sedikit merasakan bagaimana sulitnya kehidupan saudara-saudara di Palestina.
Hari demi hari berlalu.
Menunggu hari-H LATANSA terasa begitu lama karena rasa antusias yang luar biasa. Membayangkan kegiatan lari, permainan penuh hikmah, latihan baris-berbaris, hingga hukuman apa yang akan diberikan panitia jika terlambat.
Pengumuman persiapan fisik pun dibagikan: olahraga minimal 20 menit setiap hari, memperkuat ruhiyah, menjaga ibadah, serta memperhatikan asupan makanan.
Aku semakin bersemangat.
Aku mulai rutin berjalan kaki, senam aerobik, dan menjaga pola makan agar kuat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Terlebih aku mendapat amanah menjadi pembaca doa pada upacara pembukaan.
Tags:Kepri, Latansa, Muharrikah Romadoniyah
















