KEPRI – Ketua DPW PKS Kepulauan Riau (Kepri), Suryani, menekankan pentingnya memperkuat ketahanan keluarga melalui nilai agama, moral, kesehatan jiwa, serta komunikasi yang sehat antara anggota keluarga.
Hal itu disampaikan Suryani dalam Talk Show Pengarusutamaan Keluarga yang digelar di Hotel Harmoni One, Batam Center, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Suryani, keluarga memiliki bentuk dan kondisi yang beragam. Tidak semua keluarga berada dalam kondisi utuh dengan adanya ayah, ibu, dan anak. Ada keluarga yang kehilangan pasangan, ada pula keluarga yang dijalankan oleh orang tua tunggal.
“Jadi tetap disebut keluarga walaupun secara keutuhan tidak utuh. Ada juga keluarga-keluarga yang berjuang, misalnya single parent, ibu-ibu yang berjuang untuk menghidupi keluarganya,” kata Suryani.
Ia mengatakan, setiap keluarga juga menghadapi ancaman yang berbeda. Sebagian keluarga menghadapi tantangan dari dunia digital dan media sosial, sementara keluarga lainnya menghadapi persoalan ekonomi.
“Ketika berbicara tentang ancaman terbesar, versi masing-masing keluarga tentu akan berbeda. Ada yang mengatakan media sosial, ada yang mengatakan ekonomi,” ujarnya.
Namun, menurut Suryani, berbagai persoalan tersebut pada dasarnya saling berkaitan. Persoalan ekonomi, kesehatan jiwa, hubungan pasangan, hingga pola pengasuhan dapat memengaruhi ketahanan sebuah keluarga.
Karena itu, ia menilai penguatan nilai agama, moral, dan akhlak harus menjadi fondasi utama dalam keluarga.
“Kita ini nothing tanpa Allah, tanpa Tuhan. Maka ketangguhan agama, nilai dan moral itu yang harus selalu dikuatkan dalam keluarga. Karena pembentukan generasi awalnya memang dari keluarga,” tegasnya.
Suryani menjelaskan, kualitas keluarga akan sangat menentukan kualitas generasi yang dilahirkan. Karena itu, kesamaan persepsi antara suami dan istri dalam mendidik anak menjadi hal penting.
Selain nilai agama, ia juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan ibu. Menurutnya, kondisi ibu sebagai mitra utama dalam pembentukan generasi tidak boleh diabaikan.
“Kalau asupan gizi kurang, itu bisa berpengaruh terhadap kondisi anak dan menjadi persoalan bangsa. Salah satunya yang melatarbelakangi berbagai program pemerintah adalah bagaimana menurunkan tingkat stunting di Indonesia,” jelasnya.
Suryani juga mengingatkan agar beban keluarga tidak hanya dipikul oleh salah satu pihak, terutama ibu. Kesibukan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, ditambah minimnya dukungan pasangan, dapat memengaruhi kondisi emosional seorang ibu.
Ia mengatakan, dukungan pasangan dan keluarga menjadi kekuatan penting bagi seseorang dalam menghadapi berbagai tekanan di luar rumah.
“Walaupun tantangan di luar itu bertubi-tubi, kalau daya dukung dan support di keluarga kuat, itu menenangkan,” katanya.
Sebagai seorang politisi, Suryani mengaku pernah menghadapi berbagai tekanan, termasuk pembulian dan dinamika politik saat mengikuti Pilkada maupun ketika menjalankan tugas sebagai anggota DPRD. Namun, dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan baginya untuk tetap bertahan.
“Ketika backbone kita, daya dukung kita di keluarga kuat, itu menenangkan,” ujarnya.
Perempuan Tangguh, Bagian dari Keluarga Tangguh
Suryani kemudian mengajak perempuan untuk menjadi pribadi yang tangguh karena menurutnya perempuan tangguh merupakan bagian penting dari keluarga yang tangguh.
Ia menyebut setidaknya ada sejumlah indikator yang dapat menjadi ukuran ketangguhan sebuah keluarga. Salah satunya adalah memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai spiritual dan agama.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya informasi di media sosial membuat keluarga, terutama generasi muda, harus memiliki fondasi nilai yang kuat.
Ia mengingatkan bahwa berbagai pemikiran yang berkembang di ruang digital dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap kehidupan, keluarga, hingga agama.
“Pemikiran-pemikiran yang masuk ke ruang media kita itu secara pelan-pelan bisa masuk ke dalam pemikiran. Kalau fondasi generasi muda kita kurang, maka akan berkembang dan itu berbahaya,” katanya.
Selain fondasi agama, Suryani menilai keluarga tangguh juga harus memiliki hubungan yang sehat antara anggota keluarga.
Menurutnya, komunikasi menjadi salah satu kunci utama dalam membangun hubungan tersebut. Persoalan dalam keluarga tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Sikap diam atau silent treatment juga dapat menjadi persoalan apabila dilakukan tanpa komunikasi yang sehat.
“Kadang ada pasangan yang tidak mau ngomong. Padahal tidak ada kekerasan fisik maupun psikis, tetapi ternyata suami atau istri membutuhkan interaksi dan membutuhkan ngobrol,” ujarnya.
Ia menegaskan, komunikasi yang sehat sangat penting agar persoalan keluarga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Permasalahan keluarga itu banyak yang berawal dari komunikasi. Jadi komunikasi yang baik dalam keluarga memang sangat penting,” pungkas Suryani.*















