Di sela-sela kegiatan, sandal jepit berpeniti itu mulai menjalankan tugasnya. Ia menemaniku menuju tempat wudu sebelum salat Zuhur, melintasi jalan semen pelantar menuju toilet di paviliun pantai, hingga dipakai kembali ketika agenda malam berlangsung.
Anehnya, peniti kecil yang semula kupikir hanya bertahan beberapa langkah justru tetap kokoh sepanjang kegiatan. Aku bahkan beberapa kali lupa bahwa sandal itu pernah rusak dan hendak kubuang. Setelah bermalam di tenda, kami kembali dibangunkan untuk persiapan salat Lail di lapangan dan mengikuti aktivitas lanjutan yang menuntut kekompakan, kedisiplinan, dan semangat pantang menyerah.
Usai wudu kami kembali ke tenda untuk membereskan perlengkapan. Sandal itu kembali
kubungkus dengan kantong plastik dan kusimpan di dalam ransel tanpa sedikit pun terpikir untuk membuangnya.
Seminggu setelah Latansa berakhir, sandal jepit berpeniti itu ternyata masih setia berada di rak teras rumah. Hingga kini, ia masih kupakai untuk berbagai keperluan ringan di luar rumah. Rencana membuangnya sepulang pelatihan tak pernah terlaksana karena ia terus membuktikan bahwa dirinya masih tetap setia untuk bisa bermanfaat.
Tags:
















