LATANSA Kepri: Menemukan Makna Rumah Besar Itu

Setelah hampir sepekan LATANSA berlalu, ternyata yang paling membekas bukanlah dinginnya malam di tepi pantai atau lelahnya mengikuti setiap rangkaian kegiatan.

Yang tertinggal justru momen-momen sederhana.

Ternyata nikmat, ya…

Duduk berhimpitan dalam satu ruangan, melantunkan Al-Ma’tsurat Kubra bersama. Lalu diam-diam memandangi wajah-wajah penuh ketulusan sambil menyelipkan doa-doa terbaik untuk mereka.

Ternyata nikmat, ya…

Makan bersama dalam satu nampan, saling bercanda, saling mendahulukan, tanpa memandang siapa anggota dewan, siapa dokter, siapa ibu rumah tangga, siapa yang lebih senior, atau siapa yang baru bergabung.

Tak ada sekat jabatan.

Tak ada pembeda status.

Semua duduk di atas hamparan pasir yang sama.

Semua menikmati lauk yang sama.

Walaupun, untuk urusan antre kamar mandi, tetap tidak ada cerita saling mendahulukan.

Semua tetap adil sesuai nomor antrean, ya Bu-Ibu.

Hehe…

Ternyata nikmat, ya…

Tidur berhimpitan di dalam satu tenda.

Saling mengingatkan untuk beristirahat.

Saling membangunkan untuk tahajud.

Berbagi alas tidur seadanya.

Berbagi bekal yang dibawa dari rumah.

Bergantian membantu teman yang sedang tidak baik-baik saja.

Barulah kusadari, ada beberapa hal yang tidak cukup dipahami lewat teori.

Ia harus dialami.

Harus dirasakan.

Justru dari hal-hal kecil yang tampak biasa itulah makna ukhuwah tumbuh perlahan.

Tags:, , ,