Ketika Allah Menjaga yang Kutinggalkan

Sejak kegiatan dimulai, seluruh telepon genggam peserta dikumpulkan panitia. Tidak ada kesempatan menghubungi rumah. Tidak ada kabar tentang anak-anak yang kutinggalkan.

Di situlah aku benar-benar belajar makna tawakal.

Biasanya, setiap beberapa jam aku akan memastikan keadaan anak-anak. Kali ini aku hanya memiliki doa. Aku tidak tahu bagaimana kondisi si bungsu. Aku tidak tahu apakah demamnya sudah turun. Yang bisa kulakukan hanyalah meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik Penjaga.

“Cukuplah Allah menjadi Penjaga.”

Ketika hati mulai tenang, aku menyadari bahwa selama ini aku sering merasa seolah semua harus berada dalam kendaliku. Padahal sejak awal, anak-anak hanyalah titipan Allah. Aku hanya diberi amanah untuk merawat mereka sebaik mungkin.

Di antara seluruh materi yang disampaikan, kisah perjuangan Zainab Al-Ghazali paling mengguncang hatiku. Keteguhan beliau menghadapi ujian demi mempertahankan dakwah membuatku merasa sangat kecil.

Aku berkata dalam hati, “Perjuanganku belum ada apa-apanya.”

Aku masih hidup dalam banyak kenyamanan. Aku belum memberikan kontribusi sebesar yang seharusnya bagi dakwah. Bahkan untuk keluargaku sendiri, aku merasa masih jauh dari kata maksimal sebagai istri maupun sebagai ibu.

Puncak perjalanan batinku terjadi saat muhasabah setelah qiyamul lail. Dalam suasana malam yang hening, ketika hiruk-pikuk dunia seolah berhenti, aku merenungkan kembali perjalanan hidupku.

Air mata mengalir tanpa mampu kutahan. Bukan karena lelah, melainkan karena menyadari begitu banyak amanah yang belum kutunaikan dengan sebaik-baiknya. Aku memohon kepada Allah agar diberi kesempatan memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, dan tetap berada di jalan dakwah hingga akhir hayat.

Tags:, ,