Oleh: Fatmawati
Peserta Latansa PKS Kepri 2026“Ya Allah, aku titipkan keluargaku kepada-Mu.”
Kalimat itu lirih terucap di dalam hati sesaat sebelum kaki ini melangkah meninggalkan rumah.
Bukan karena aku akan pergi jauh, melainkan karena aku harus meninggalkan amanah terbesarku. Anak bungsuku yang baru berusia lima tahun masih terbaring demam. Hampir sepekan suhu tubuhnya naik turun. Sebagai seorang ibu, rasanya hati ini ingin tetap berada di sisinya.
“Ayah bisa menjaga anak-anak. Berangkatlah. Insya Allah semuanya baik-baik saja.”
Kalimat sederhana dari suamiku menjadi penguat langkah yang sempat goyah. Saat itu aku belajar bahwa ada kalanya seorang ibu harus percaya, bukan hanya kepada pasangan yang ditinggalkan di rumah, tetapi juga kepada Allah, Sang Pemilik seluruh penjagaan.
Dengan doa yang terus mengalir, aku memulai perjalanan dari Tanjungpinang menuju Batam untuk mengikuti Latansa (Latihan Perempuan Siaga) PKS Kepulauan Riau 2026 di Pantai Vio-Vio pada 4–5 Juli 2026.
Selama bertahun-tahun, aku hanya mendengar cerita tentang Latansa dari teman-teman seperjuangan. Selalu ada alasan untuk tidak hadir. Anak-anak masih kecil dan membutuhkan perhatian penuh. Kini, ketika Allah memberi kesempatan, aku ingin menyambutnya dengan sebaik-baiknya.
Perjalanan menuju lokasi menjadi ujian pertama. Dari Tanjungpinang kami menyeberang menggunakan kapal feri menuju Batam, melanjutkan perjalanan dengan bus, lalu berjalan cukup jauh menuju area perkemahan sambil memanggul ransel berisi perlengkapan.
Matahari bersinar terik. Peluh mengalir deras. Napasku tersengal. Aku tersenyum kecil sambil berkata dalam hati, “Ternyata badan ini sudah lama tidak diajak berjuang.”
Sesampainya di lokasi, tantangan belum selesai. Mendirikan tenda, terik matahari, toilet yang cukup jauh, antrean mandi hingga larut malam, tugas kelompok, hafalan, tilawah, hingga waktu istirahat yang sangat terbatas menjadi bagian dari pengalaman yang tak akan kulupakan.
Namun justru di sanalah letak keindahannya. Semua proses itu menempa kesabaran, melatih kerja sama, dan menguatkan mental. Aku benar-benar merasakan bahwa pengalaman seperti ini sangat berharga. Rasanya rugi jika melewatkan kesempatan mengikuti Latansa. Alhamdulillah, pengalaman seistimewa ini hanya bisa kurasakan bersama keluarga besar PKS.
Sebagai seorang ibu yang bertahun-tahun terbiasa tidur di rumah bersama anak-anak, bermalam di alam terbuka tentu bukan perkara mudah. Anehnya, rasa lelah itu perlahan menghilang karena hangatnya ukhuwah yang kurasakan. Aku bertemu perempuan-perempuan hebat dari berbagai daerah yang datang dengan semangat yang sama: belajar, bertumbuh, dan menguatkan diri untuk dakwah.
Namun, tantangan terberat ternyata bukan medan yang berat ataupun aktivitas fisik.
















