Ismiyati Apresiasi Kebijakan BDR Akibat Kabut Asap, Mutu Pembelajaran Harus Tetap Dijaga

KEPRI – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Hj. Ismiyati, mengapresiasi kebijakan Pemerintah Provinsi Kepri yang mengalihkan sementara kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) menjadi Belajar Dari Rumah (BDR) bagi siswa SMA, SMK, dan SLB.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah antisipatif untuk melindungi siswa, guru, dan warga sekolah dari dampak kabut asap serta penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah Kepri.

Kebijakan BDR tertuang dalam Surat Edaran Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Nomor B/400.3/58/DISDIK-SET/2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) pada SMA, SMK, dan SLB se-Provinsi Kepri.

Dalam surat edaran tersebut, BDR mulai diberlakukan sejak 15 September 2026. Pelaksanaan BDR dilakukan ketika indeks kualitas udara berada di atas 100 untuk SMA/SMK dan di atas 90 untuk SLB, hingga kondisi kualitas udara membaik dan dinyatakan aman.

Menurut Ismiyati, keputusan tersebut merupakan langkah yang tepat karena kesehatan dan keselamatan peserta didik maupun tenaga pendidik harus menjadi prioritas ketika kondisi udara berpotensi membahayakan kesehatan.

“Kita mengapresiasi respons Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Dalam kondisi seperti ini, kesehatan dan keselamatan anak-anak kita tentu menjadi prioritas. Jangan sampai proses pendidikan justru membuat murid terpapar kondisi udara yang tidak sehat,” ujar Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) PKS Kepri ini.

Meski demikian, ia mengingatkan agar perubahan metode pembelajaran dari tatap muka menjadi BDR tidak berdampak terhadap kualitas pendidikan. Sekolah dan Dinas Pendidikan, kata dia, harus memastikan BDR benar-benar menjadi proses pembelajaran dan bukan sekadar pemberian tugas kepada siswa.

Hal tersebut juga sejalan dengan surat edaran Pemprov Kepri yang menginstruksikan kepala sekolah dan guru menyusun skenario penugasan serta bahan ajar secara terstruktur.

Sekolah juga diminta berkoordinasi aktif dengan orang tua, memastikan aktivitas belajar terdokumentasi, serta melakukan supervisi dan pelaporan secara berkala.

“Belajar dari rumah jangan dimaknai hanya dengan memberikan tugas melalui WhatsApp atau platform pembelajaran, kemudian murid mengerjakannya sendiri. Guru tetap harus hadir dalam proses pembelajaran, memberikan penjelasan, melakukan interaksi, memantau pemahaman murid dan memastikan tidak ada anak yang tertinggal,” tegasnya.

Ismiyati juga menekankan pentingnya komunikasi antara sekolah, guru, dan orang tua selama BDR berlangsung. Orang tua diharapkan turut mendampingi dan mengawasi anak selama proses belajar, sekaligus membatasi aktivitas di luar rumah guna mengurangi paparan kabut asap.

Menurutnya, BDR merupakan pilihan yang diperlukan dalam kondisi tertentu, namun pembelajaran tatap muka tetap memiliki keunggulan yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh pembelajaran daring.

“Pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan. Di dalamnya ada interaksi, pendampingan, pembiasaan, pembentukan karakter, disiplin, dan keteladanan. Anak-anak kita membutuhkan kehadiran guru sebagai pendidik dan teladan. Aspek-aspek seperti ini jauh lebih optimal ketika pembelajaran dilakukan secara langsung di sekolah,” jelasnya.

Karena itu, Ismiyati berharap kondisi kabut asap di Kepri segera membaik sehingga kegiatan pembelajaran dapat kembali dilaksanakan secara normal.

“Kita tentu berharap kabut asap ini segera hilang, kualitas udara kembali sehat dan anak-anak bisa kembali belajar di sekolah. BDR adalah solusi sementara untuk melindungi kesehatan murid, tetapi jangan sampai kondisi ini berlangsung lebih lama dari yang diperlukan,” katanya.

Ia juga meminta Dinas Pendidikan Provinsi Kepri melakukan evaluasi secara berkala, tidak hanya terhadap perkembangan kualitas udara, tetapi juga efektivitas pelaksanaan BDR di setiap satuan pendidikan.

Menurutnya, sekolah dengan keterbatasan akses internet dan perangkat pembelajaran, maupun siswa yang tidak mendapatkan pendampingan optimal di rumah, perlu mendapat perhatian khusus.

Evaluasi tersebut penting agar kebijakan perlindungan kesehatan tidak menimbulkan persoalan baru berupa kesenjangan kualitas pembelajaran antarsiswa maupun antardaerah.

“Keselamatan anak harus kita jaga, tetapi hak mereka memperoleh pendidikan yang berkualitas juga harus tetap kita kawal. Karena itu kesehatan dan kualitas pembelajaran harus berjalan beriringan,” ujarnya.

Ismiyati berharap sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah dapat terus bekerja sama selama masa BDR. Setelah kondisi udara dinyatakan aman, pembelajaran tatap muka diharapkan dapat segera kembali dilaksanakan dengan tetap memperhatikan rekomendasi instansi terkait.

“Semoga Allah segera mengangkat kabut asap ini dari Kepulauan Riau, menjaga kesehatan masyarakat kita, dan anak-anak dapat kembali ke sekolah untuk belajar, berinteraksi dengan guru dan teman-temannya, serta mendapatkan pendampingan dan keteladanan secara langsung. Karena sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu, tetapi juga tempat tumbuhnya karakter dan kepribadian generasi masa depan,” tutup Ismiyati.***

Tags:, ,