Kader yang Berani Berpikir

Jadi, satu sama lain saling memandang rendah. Syedih syekali, warga 😭

Bukankah sombong, salah satu deadliest sin menurut Nabi SAW, adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain? Ini berlaku untuk semua generasi, bukan?

Dan btw punya cara baru bukan berarti cara lama pasti jelek. Kalo ingin didengar, juga harus belajar mendengar. Kalau pengen dikasi kepercayaan, harus tunjukin tanggung jawab.

Kader muda lain di workshop yang sama bertanya: “Gimana kalo kita diberi amanah, Mik?”

Jawaban saya: Ya, kerjain totalitas dengan penuh tanggung jawab, seoptimal mungkin, bahkan kalo bisa melampaui ekspektasi orang-orang.

Jangan normalisasi jawaban ala demotivator: “kalo ada yang lain, kenapa harus saya?”

Kelima, collective genius butuh kultur yang suportif.

Collective genius bukan berarti semua orang harus jenius karena tentu gak ada satu orang yang punya seluruh potongan jawaban.

Ada yang fasih ngeliat lapangan. Ada yang paham isi pikiran sampe tulang sumsum generasi muda. Ada yang punya pengalaman panjang. Ada yang menguasai teknologi. Ada yang cerdas melihat risiko. Ada yang berani mencoba. Ada yang mampu ngeliat persoalan dari POV yang sama sekali berbeda.

Kalau semua hanya mengikuti suara yang paling senior, paling nyaring, atau paling berpengaruh, kita kehilangan sebagian kecerdasan yang sebenarnya sudah ada dalam jamaah.

Maka collective genius butuh satu hal yang sangat sederhana, yaitu kultur yang membuat orang berani mengeluarkan apa yang ada di kepalanya.

Kultur di mana orang lain cukup dewasa untuk mendengar. Yang siap menerima “Apa yang kamu lihat yang mungkin belum saya lihat?”

Keenam, sebaliknya, perlu diwaspadai lingkungan yang mematikan kultur collective genius.

Akhir-akhir ini stagnasi mengemuka menjadi isu yang terjadi di merata tempat. Padahal bisa jadi asbabnya sudah berlangsung berbilang generasi.

Mungkin karena gak keliatan. Gak dianggap masalah besar. Kadang justru terlihat sangat tenang.

Kapan itu?

Waktu banyak orang mulai berhenti bertanya. Berhenti ngasih usul. Berhenti nyoba. Berhenti mengoreksi. Berhenti berharap perubahan.

Rapat sih jalan. Program tetap jalan. Bahkan semua tetap hadir.

Tapi pelan-pelan orang belajar: “Lebih aman diam.”

Alih-alih jadi taman bunga yang dirindu sebagai tempat bertemu berbagai gagasan, unit-unit pembinaan justru lebih sunyi daripada mobil listrik. Lebih mencekam dari kuburan.

Itu sebab, mungkin salah satu tanda kultur dakwah yang sehat bukan tidak adanya perbedaan.

Justru orang boleh berbeda, tapi tetap merasa punya tempat. Boleh bertanya, tapi dengan hormat. Boleh mengkritik, tapi dalam rangka kasih sayang. Boleh mencoba, tapi gak kabur atau pundung (= ngambek) tiap gagal atau dikritisi.

Pada akhirnya, taat dan sepakat adalah hilir. Hulunya adalah jalan panjang fahmu, ikhlas, amal, jihad, dan seterusnya.

Fahmu, kepahaman, tak lain diawali dari keberanian berpikir.

Berani berpikir, berani bertanya, berani berbeda. Bersanding dengan mentalitas mau mendengar, mau belajar, berani ngaku salah, dan bisa move on.

Mampu tetap berkhidmat dan berbuat setelah perbedaan selesai dibicarakan.

Tiada lain. Selalu, nasihat paling utama untuk diri saya sendiri.

Afwun minkum.

Salam sayang. Salam juang.

Tags: