Investasi Rp40 Triliun Masuk Batam, Wahyu Wahyudin Soroti Manfaat bagi Masyarakat

KEPRI – Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dari Fraksi PKS, Wahyu Wahyudin, menyoroti dampak investasi yang masuk ke Batam yang mencapai sekitar Rp40 triliun pada semester I 2026.

Menurut Wahyu, besarnya nilai investasi tersebut menunjukkan Batam masih menjadi salah satu magnet investasi. Namun, ia menilai keberhasilan investasi tidak cukup hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk.

“Pemerintah jangan hanya bangga dengan besarnya angka investasi. Ukuran keberhasilan investasi bukan sekadar berapa triliun rupiah yang masuk, tetapi seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Wahyu.

Ia mempertanyakan sejauh mana investasi tersebut memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Batam. Beberapa indikator yang menurutnya perlu diperhatikan antara lain penyerapan tenaga kerja lokal, keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri, peningkatan pendapatan masyarakat, daya beli, hingga kontribusi investasi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pembangunan fasilitas publik.

“Berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap? Berapa UMKM Batam yang masuk dalam rantai pasok industri? Apakah pendapatan masyarakat meningkat? Apakah daya beli masyarakat membaik? Dan apakah investasi tersebut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PAD serta pembangunan fasilitas publik?” katanya.

Wahyu mengingatkan agar pertumbuhan investasi tidak menimbulkan kesenjangan antara perkembangan kawasan industri dan kondisi ekonomi masyarakat di sekitarnya.

“Jangan sampai terjadi paradoks: investasi tumbuh, kawasan industri berkembang, tetapi masyarakat di sekitarnya masih kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak dan UMKM lokal hanya menjadi penonton,” tegasnya.

Karena itu, Wahyu mendorong pemerintah untuk membuka indikator dampak investasi secara transparan dan terukur kepada publik. Menurutnya, setiap investasi berskala besar perlu memiliki indikator manfaat sosial dan ekonomi yang jelas.

Indikator tersebut, lanjutnya, dapat mencakup serapan tenaga kerja lokal, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), kemitraan dengan UMKM, penggunaan produk lokal, hingga kontribusi terhadap penerimaan daerah.

“Batam tidak cukup hanya menjadi tempat masuknya modal. Batam harus menjadi tempat di mana masyarakatnya ikut naik kelas karena investasi,” ujarnya.

Wahyu menegaskan, investasi pada akhirnya bukan semata-mata tentang besarnya modal yang masuk, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.

“Sebab pada akhirnya, investasi bukan hanya tentang modal yang masuk ke Batam, tetapi tentang kesejahteraan yang mengalir kepada masyarakat Batam,” pungkasnya.***

Tags:, ,