Sifat-sifat Rasul

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah, 62: 2)

Beliau menyeru manusia dengan hikmah (pengetahuan) dan pelajaran yang baik serta dialog yang terbaik sebagaimana diperintahkan Allah Ta’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl, 16: 125)

Kelima, al-amanah (terpercaya), dan keenam, at-tabligh (menyampaikan risalah).

Dalam pembahasan madah sebelumnya sudah disampaikan bahwa sebagai rasuulun minal mursalin, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tugas untuk ballaghar risalah (menyampaikan risalah) sebagai bentuk adaul amanah (penunaian amanah).

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah, 5: 67)

Sifat amanah adalah sifat kerasulan. Tidak ada seorang Rasul pun yang tidak memiliki sifat mulia ini. Misalnya Allah Ta’ala menceritakan di dalam Al-Qur’an tentang Nabi Shalih yang berkata kepada kaumnya,

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul terpercaya (yang diutus) kepadamu,” (QS. Asy-syuara’, 26: 143)

Rasulun amin (rasul terpercaya) maknanya adalah sedikitpun ia tidak menambah, mengurangi, atau menyembunyikan risalah Allah Ta’ala yang diamanahkan kepadanya.[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuktikan sifat amanahnya dengan menyampaikan seluruh wahyu Allah Ta’ala tanpa ada yang disembunyikan atau ditutup-tutupi, termasuk di dalamnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan ‘kesalahan-kesalahan’ yang dilakukannya.

Bukankah Rasulullah tidak menutup-nutupi wahyu Allah Ta’ala yang menegur dirinya karena bersikap acuh tak acuh terhadap Abdullah bin Ummi Maktum sebagaimana dimuat di awal surat ‘Abasa?

Bukankah Rasulullah tidak menutup-nutupi wahyu Allah Ta’ala yang menegur dirinya karena bersumpah kepada istrinya untuk tidak meminum madu sebagaimana dimuat di awal surat At-Tahrim?

Bukankah Rasulullah tidak menutup-nutupi wahyu Allah Ta’ala yang menegur dirinya tentang tawanan perang sebagaimana dimuat di surat Al-Anfal ayat 67?

Bahkan berkenaan dengan sifat amanah ini, beliau sudah dikenal sejak sebelum masa kenabian sebagai orang yang jujur dan tidak pernah berdusta sehingga diberi gelar Al-Amin (terpercaya).

Ketujuh, al-iltizamul kamil (komitmen yang sempurna terhadap kebenaran).

Beliau tidak pernah bergeser sedikitpun dari kebenaran. Beliau senantiasa berkomitmen kepadanya dari segala sisinya. Salah satu contohnya adalah beliau tidak bergeming sedikitpun menghadapi tipu daya muyrikin Quraisy yang berusaha menodai dakwahnya. Ibnu Ishak, Ibnu Mardawaih dan lain-lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal serta beberapa orang pemuka suku Quraisy berkata: “Mintalah berkah kepada tuhan-tuhan kami, dan kamipun akan bersama-sama kamu memasuki agamamu”. Maka turunlah firman Allah Ta’ala menguatkan komitmen beliau,

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاتَّخَذُوكَ خَلِيلا وَلَوْلا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلا إِذًا لأذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا
“Dan mereka hampir memalingkan engkau (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-ada yang lain terhadap kami; dan jika demikian tentu mereka menjadikan engkau sahabat yang setia. Dan sekiranya Kami tidak memperteguh(hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka, Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap kami.” (QS. Al-Israa, 17: 73-75)

Beliau berkomitmen dengan dakwahnya dan tidak pernah berhenti dari tugas agung ini. Lembaran sirah nabawiyah menggambarkan bagaimana gigihnya beliau memulai dakwah dan sabar mengarungi medan perjuangan hingga akhir hayatnya. Beliau komitmen dengan kezuhudan, komitmen dengan jihad, komitmen dengan ibadah yang tiada bandingannya, komitmen dengan akhlak mulia, komitmen dengan muamalah yang baik, dan lain sebagainya.

Kesimpulannya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ’ala khuluqin adzim (berada di atas akhlak yang agung). Allah Ta’ala berfirman,

Tags: