“رَانَ“ artinya ghalaba (menguasai) atau menutupi. Berkata Abu Ubaid: “Setiap apa saja yang menguasai dirimu, maka disebut dengan ‘rona’”[4]
Berkata al-Baghawi: “Ar-Rain artinya menguasai, dikatakan: ‘Minuman khamr itu telah membuat ‘ar-Rain’ atas akalnya’, maksudnya telah menutupi (menguasai) akalnya sehingga dia menjadi mabuk”. Sehingga, ayat tersebut bisa diartikan: Perbuatan-perbuatan maksiat itu telah menutupi dan menguasai hati mereka. Berkata Hasan al-Bashri: “Dosa yang menumpuk atas dosa yang lain, sehingga hati menjadi mati“.[5]
Maka berdasarkan ayat ini jelaslah, orang yang banyak melakukan maksiat pasti akan terhalang dari mengenal Allah Ta’ala. Na’udzubillahi min dzalik.
Maradhu as-syubhah
Pertama, al-jahlu (kejahilan/kebodohan). Yakni tidak mau memikirkan ayat-ayat Allah Ta’ala, baik ayat-ayat qauliyah -yang tersurat dalam Al-Qur’an-, maupun ayat-ayat kauniyah -yang tersirat di seluruh penjuru alam semesta-. Inilah yang menyebabkan terhalangnya manusia dari mengenal Allah Ta’ala.
Mereka tidak mau menggunakan potensi diri mereka untuk memikirkan ayat-ayat Allah Ta’ala, sehingga ia dicela dalam Al-Qur’an dengan ungkapan,
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ
“…dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita.” (QS. Al-An’am, 6: 39).
Padahal Allah Ta’ala telah memberikan kesempatan yang cukup kepada mereka untuk memikirkan ayat-ayat-Nya,
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan’. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Fathir, 35: 37)
Kedua, al-irtiyab (keragu-raguan). Hal ini disebabkan karena sedikitnya ilmu dan ma’rifah (pemahaman). Bisa dikatakan pula, keragu-raguan ini lahir dari kebodohan. Begitulah orang-orang munafik, selalu berada dalam kondisi terombang-ambing antara iman dan kafir,
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَلَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.” (QS. An-Nisa, 4: 143)
Mereka disesatkan oleh Allah Ta’ala karena keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala. Maka orang-orang kafir dan munafik itu terhalang dari mengenal Allah Ta’ala, mereka dalam kondisi ragu-ragu sepanjang hidupnya hingga datang kematian yang tiba-tiba.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ
“Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat..” (Al-Hajj, 22 : 55)
Ketiga, al-inhiraf (penyimpangan). Manakala manusia tidak mau berpegang teguh kepada petunjuk Allah Ta’ala; tidak mau berkomitmen melaksanakan tuntunan-Nya; bahkan mereka malah mengikuti hawa nafsu dan akal fikirannya; maka pada saat itulah hatinya akan keras membatu. Terhijablah petunjuk Allah Ta’ala darinya. Ia pun melangkah semakin jauh dari jalan yang lurus, sehingga tak mampu mengenal Allah Ta’ala dengan benar. Hal seperti ini pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada masa lalu. Allah Ta’ala berfirman,
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Maidah, 5 : 13)
Keempat, al-ghaflah (kelalaian). Dalam poin pertama telah disebutkan bahwa jika manusia tidak menggunakan potensi dirinya untuk memahami ayat-ayat Allah Ta’ala, maka mereka akan terhalang dalam mengenal-Nya. Hal ini karena kebodohan mereka itu membuat mereka lalai atau lengah,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum, 30: 7)
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf, 7 : 179)
Tags:
















