Secara garis besar, terdapat dua hal yang menghalangi manusia dalam mengenal Allah. Pertama, maradhus syahwat (berkaitan dengan penyakit hati; berupa nafsu dan kesenangan serta perilaku yang tidak terpuji). Kedua, maradhus-syubhat (berbagai hal yang menimbulkan keraguan, lebih banyak berkaitan dengan masalah akal dan logika).
Maradhus Syahwat
Pertama, al-fisqu (kefasikan).
Fasik adalah orang yang senantiasa melanggar perintah dan larangan Allah, bergelimang dengan kemaksiatan serta senantiasa berbuat kerusakan di bumi. Mereka hanya memikirkan kehidupan dunia saja, tidak memikirkan kehidupan di akhirat nanti. Mereka disibukkan oleh harta-harta dan anak cucu mereka serta segala yang berhubungan dengan kesenangan duniawi.
Mereka lupa kepada Allah, maka Allah pun membiarkan mereka bergelimang dalam kesesatan, lupa hakikat dirinya dan pada akhirnya semakin jauh dari jalan yang diridhai-Nya.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“..dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr, 59: 19)
Orang-orang yang fasik itu sebenarnya mengetahui mana yang hak, mana yang batil, mana yang baik, dan mana yang jahat. Namun ia tidak melaksanakan yang benar dan yang baik itu, melainkan ia melaksanakan yang batil dan yang jahat. Sifat dan perilaku seperti itulah yang akan menghalanginya dari mengenal Allah Ta’ala.
Kedua, al-kibru (kesombongan).
Kesombongan merupakan suatu sikap dimana hati seseorang ingkar dan selalu membantah terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala,
الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
“(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS. Al-Mu’min, 40: 35)
Allah menerangkan hukum-hukum-Nya bagi orang-orang yang menutup hatinya untuk menerima kebenaran wahyu, yaitu bahwa Ia akan menutup hati mereka.[1]
Ketiga, adz-dzulmu (kedzaliman).
Mengenai sifat dzalim ini, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah, 32: 22)
Allah Ta’ala menerangkan bahwa orang yang paling zalim ialah orang yang telah sampai kepadanya peringatan Allah, telah sampai pula kepadanya ayat-ayat Alquran dan petunjuk Rasul, kemudian mereka berpaling dari ajaran dan petunjuk itu karena angkuh dan penyakit dengki yang ada di dalam hatinya. Sikap dzalim (aniaya) seperti inilah yang menghalangi mereka dari mengenal Allah Ta’ala.[2]
Keempat, al-kidzbu (kedustaan)
Kedustaan merupakan sikap bohong (pura-pura) dan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala. Hal ini seperti yang dilakukan oleh orang-orang munafik sebagaimana dimuat dalam firman Allah Ta’ala,
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar, dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah, 2: 9-10)
Mereka memperlihatkan iman, kasih sayang dan menyembunyikan permusuhan dalam batin. Mereka menyebarkan permusuhan dan fitnah-fitnah untuk melemahkan barisan kaum Muslimin. Namun usaha kaum munafik itu selalu gagal dan sia-sia. Hati mereka bertambah susah, sedih dan dengki, sehingga pertimbangan-pertimbangan yang benar dan jujur untuk menilai kebenaran semakin lenyap dari mereka. Akal pikiran mereka bertambah lemah untuk menanggapi kebenaran agama dan memahaminya.[3]
Kelima, katsratul ma’ashiy (banyak melakukan perbuatan maksiat).
Allah Ta’ala berfirman,
كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin, 83 : 14)
Disebutkan dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ” كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”
”Sesungguhnya seorang hamba jika ia melakukan kesalahan, maka akan tercemari hatinya dengan satu bercak hitam. Jika ia menghentikan kesalahannya dan beristighfar (memohon ampun) serta bertaubat, maka hatinya menjadi bersih lagi. Jika ia melakukan kesalahan lagi, dan menambahnya maka hatinya lama-kelamaan akan menjadi hitam pekat. Inilah maksud dari ”al-Raan” (penutup hati) yang disebut Allah dalam firman-Nya: ”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” [Al-Muthoffifin: 14] ” (Hadist Riwayat Tirmidzi (No : 3334) dan Ahmad (2/297). Berkata Tirmidzi : “Ini adalah hadist Hasan Shahih).
Tags:
















