Ayah, Mengapa Engkau Selalu Pulang Setelah Masa Kecilku Selesai? (Catatan Sunyi di Hari Keluarga Nasional)

Seorang anak yang merasa dicintai akan lebih mudah mencintai. Seorang anak yang didengar akan lebih mudah mendengar orang lain. Seorang anak yang dipeluk akan lebih mudah memeluk dunia.

Sebaliknya…

Anak yang tumbuh bersama kesepian sering kali membawa kesepian itu hingga dewasa.

Luka yang tidak selesai di masa kecil sering berubah menjadi kemarahan yang tidak diketahui asalnya.

Penelitian Michael E. Lamb juga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkaitan erat dengan perkembangan intelektual, kestabilan emosi, hingga keberhasilan sosial anak.

Ilmu pengetahuan modern akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang telah lama diajarkan Islam:

Anak tidak hanya membutuhkan nafkah. Anak membutuhkan ayah.

Aku pernah bertemu seorang lelaki tua.

Usianya sekitar tujuh puluh tahun. Ia duduk sendirian di sebuah taman. Kami berbincang cukup lama.

Ia bercerita tentang masa mudanya. Tentang bisnisnya.

Tentang rumah-rumah yang berhasil ia bangun. Tentang mobil-mobil yang pernah ia miliki.

Lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ia berkata pelan,

“Dulu aku terlalu sibuk mencari uang. Sekarang uang itu ada… tapi anak-anakku sibuk seperti aku dulu.”

Kalimat itu menusuk. Begitulah hidup bekerja.

Apa yang kita tanam hari ini, sering kali baru kita panen ketika usia sudah terlalu senja untuk memperbaikinya.

Sesungguhnya anak tidak pernah meminta banyak. Ia tidak meminta rumah bertingkat.

Ia tidak meminta kendaraan mewah.

Ia tidak meminta warisan yang berlimpah. Ia hanya ingin ketika ia berkata,

“Ayah, lihat aku…”

Ayah benar-benar melihat. Ketika ia berkata,

“Ayah, dengarkan aku…”

Ayah benar-benar mendengar. Ketika ia menangis,

Ayah benar-benar memeluk. Sesederhana itu.

Tetapi justru itulah yang paling sulit dilakukan di zaman yang serba sibuk ini.

Suatu hari nanti…

Telepon genggam akan berganti. Mobil akan dijual.

Rumah akan diwariskan.

Jabatan akan ditempati orang lain.

Nama kita perlahan akan dilupakan dunia.

Namun ada satu tempat yang membuat seseorang tetap hidup meski telah tiada. Bukan gedung yang diberi namanya.

Bukan jalan raya yang memakai jasanya. Melainkan hati anak-anaknya.

Jika di sana kita tinggal sebagai kenangan yang hangat… Maka sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar pergi.

Maka, kepada setiap ayah yang hari ini masih diberi kesempatan pulang… Pulanglah sedikit lebih cepat.

Matikan telepon genggammu sejenak. Duduklah di lantai.

Biarkan anakmu bercerita, meskipun ceritanya berulang-ulang.

Peluklah ia tanpa alasan. Karena mungkin…

Beberapa tahun lagi ia tidak lagi meminta digendong.

Beberapa tahun lagi ia tidak lagi berebut duduk di pangkuanmu.

Beberapa tahun lagi ia lebih banyak bercerita kepada teman-temannya daripada kepadamu.

Dan ketika saat itu tiba…

Engkau akan menyadari bahwa masa kecil seorang anak ternyata tidak menunggu siapa pun.

Ia berlalu diam-diam. Seperti matahari sore. Tak pernah kembali.

Maka jangan biarkan kelak anakmu berkata dengan lirih,

“Ayah selalu pulang ke rumah… tetapi tidak pernah benar-benar pulang kepadaku.”

Karena sesungguhnya…

Anak-anak tidak akan mengingat berapa banyak harta yang kita tinggalkan. Mereka akan mengingat… apakah kita pernah benar-benar hadir dalam hidup mereka.

oleh: Penalegi

 

Tags: