Ayah, Mengapa Engkau Selalu Pulang Setelah Masa Kecilku Selesai? (Catatan Sunyi di Hari Keluarga Nasional)

“Setiap anak akan tumbuh. Persoalannya bukan apakah ia akan menjadi dewasa, tetapi kenangan seperti apa yang akan ia bawa ketika dewasa nanti.”

Suatu sore, aku pernah melihat seorang anak kecil berdiri di depan pagar rumahnya. Usianya mungkin belum genap tujuh tahun.

Tangannya menggenggam sebuah mobil-mobilan plastik yang rodanya sudah hampir copot. Sesekali ia menengok ke ujung jalan, lalu kembali duduk di teras. Beberapa menit kemudian ia berdiri lagi. Menunggu. Lalu duduk lagi.

Begitu terus hingga matahari tenggelam. Ibunya keluar sambil berkata pelan, “Masuk, Nak. Ayah masih kerja.”

Anak itu mengangguk.

Tetapi matanya masih tetap menghadap jalan. Mungkin ia sedang menunggu seseorang.

Bukan…

Bukan seseorang.

Ia sedang menunggu dunia kecilnya pulang.

Karena bagi seorang anak, ayah bukan hanya seorang laki-laki yang bekerja mencari nafkah.

Ayah adalah rasa aman.

Ayah adalah pelukan pertama ketika dunia mulai terasa menakutkan.

Ayah adalah tepukan kecil di bahu yang membuat seorang anak percaya bahwa ia mampu menghadapi hidup.

Namun sayangnya…

Hari ini semakin banyak anak yang mengenal ayahnya hanya melalui foto profil WhatsApp.

Kita hidup di zaman yang aneh. Gedung-gedung semakin tinggi. Internet semakin cepat.

Mobil semakin mewah. Rumah semakin luas.

Tetapi ruang percakapan di dalam keluarga justru semakin sempit. Di meja makan, semua orang hadir.

Tetapi tidak ada yang benar-benar saling memandang. Ayah sibuk menggulir layar telepon genggam.

Ibu menjawab pesan pekerjaan. Anak memeluk gim daringnya. Mereka tinggal di rumah yang sama.

Namun masing-masing hidup di dunia yang berbeda. Teknologi mendekatkan yang jauh.

Ironisnya…

Ia juga menjauhkan yang dekat.

Hari Keluarga Nasional ke-33 pada tanggal 29 Juni 2026 mengangkat tema yang sangat sederhana:

“Ayah Wajib Hadir.”

Ketika pertama kali membaca tema itu, aku terdiam cukup lama.

Mengapa harus diingatkan?

Bukankah menjadi ayah memang berarti hadir? Lalu aku menyadari sesuatu.

Barangkali karena hari ini kita memiliki terlalu banyak ayah yang mencari nafkah… tetapi terlalu sedikit ayah yang mencari waktu.

Kita memiliki terlalu banyak ayah yang membangun perusahaan… tetapi lupa membangun percakapan.

Terlalu banyak ayah yang mengejar masa depan anak… hingga kehilangan masa kecil anak.

Syekh Yusuf al-Qaradhawi pernah berkata,

“Keluarga adalah madrasah pertama, dan ayah adalah salah satu guru utamanya. Jika guru ini lalai, maka dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat seluruhnya.”
Betapa dalam kalimat itu.

Sebab sesungguhnya kerusakan masyarakat tidak selalu bermula dari jalanan. Kadang ia bermula dari ruang tamu yang kehilangan tawa.

Dari meja makan yang kehilangan doa bersama.

Dari kamar anak yang terlalu sering kosong karena ayah selalu berkata,

“Nanti saja…”

Kalimat “nanti” terdengar begitu sederhana.

Padahal banyak kenangan yang mati karena kata itu.

“Nanti Ayah temani belajar.” “Nanti Ayah lihat gambarmu.”

“Nanti Ayah datang ke pentas sekolah.”

“Nanti kita bermain.”

Anak-anak mempercayai semua “nanti” itu. Sampai akhirnya mereka tumbuh.

Dan “nanti” berubah menjadi “terlambat.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

(QS. At-Tahrim: 6). Perintah itu begitu indah. Allah tidak mengatakan,

“Kumpulkanlah harta sebanyak-banyaknya.” Allah tidak mengatakan,

“Pastikan anakmu hidup bergelimang kemewahan.” Yang Allah perintahkan adalah menjaga keluarga.

Menjaga hati mereka. Menjaga akhlaknya. Menjaga imannya.

Dan menjaga kedekatan yang kelak menjadi jalan pulang ketika mereka tersesat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Bayangkan…

Suatu hari nanti seorang ayah berdiri di hadapan Allah.

Mungkin Allah tidak hanya bertanya, “Berapa banyak uang yang kau tinggalkan?” Tetapi juga,

“Mengapa anakmu menangis sendirian ketika ia membutuhkanmu?”

“Mengapa engkau mengenal semua target perusahaanmu, tetapi tidak mengenal sahabat dekat anakmu?”

“Mengapa engkau tahu kapan jatuh tempo cicilan, tetapi lupa kapan anakmu tampil pertama kali di panggung sekolah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak pernah terpikirkan ketika kita masih sibuk mengejar dunia.

Psikolog Inggris John Bowlby menyebut bahwa hubungan emosional antara anak dan orang tua membentuk dasar seluruh kehidupan psikologis manusia.

Tags: