Mewaspadai Toxic Relationship

Oleh: Suryani, S.E., M.I.Kom
(Ketua DPW PKS Kepulauan Riau)

Kasus penyekapan seorang perempuan muda di Bandung selama kurang lebih tiga tahun sangat mengguncang nurani kita. Peristiwa ini bukan hanya menyisakan luka mendalam bagi korban dan keluarganya, tetapi juga menjadi alarm keras bagi seluruh masyarakat untuk semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kekerasan.

Ini bukan kasus yang pertama, sehingga peristiwa ini harus menjadi momentum bagi kita untuk melakukan introspeksi bersama agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Kita tentu sangat prihatin atas apa yang dialami korban. Semoga aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada pelaku agar memberikan efek jera dan menjadi pelajaran bagi siapa pun yang berniat melakukan tindakan serupa.

Dari kasus ini, kita perlu belajar untuk lebih memahami dan mewaspadai toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat.

Menurut psikolog Amerika, Lillian Glass, dalam bukunya Toxic People, toxic relationship adalah:

“Hubungan yang secara konsisten membuat salah satu pihak merasa tidak didukung, direndahkan, dikendalikan, disalahkan, atau diserang sehingga kesehatan mental dan emosinya terus menurun.”

Sementara itu, psikolog dan peneliti hubungan John Gottman menjelaskan bahwa hubungan yang sehat dibangun di atas rasa aman, saling menghormati, dan kepercayaan. Ketika hubungan dipenuhi penghinaan, kontrol, ancaman, serta rasa takut, maka hubungan tersebut telah kehilangan fondasi kasih sayang.

Kasus yang terjadi di Bandung diduga memperlihatkan pola yang sering ditemukan dalam hubungan yang sangat abusif, yaitu hubungan yang dimulai dengan rayuan dan perhatian, korban semakin dijauhkan dari lingkungan, kontrol semakin kuat, muncul kekerasan,
korban kehilangan akses untuk mencari bantuan, rasa takut membuat korban tidak mampu melawan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam hubungan dapat berkembang secara bertahap hingga mencapai tingkat yang sangat berbahaya.

Karena itu, saya mengajak para orang tua untuk terus membangun komunikasi yang hangat dengan anak-anak tanpa menghakimi. Anak harus merasa aman untuk bercerita mengenai persoalan yang mereka hadapi. Jadikan keluarga sebagai tempat yang nyaman untuk kembali, tempat yang penuh kasih sayang dan perlindungan.

Orang tua juga perlu memperhatikan lingkungan pergaulan anak serta membimbing mereka agar tidak terjerumus dalam hubungan yang salah dan dapat membahayakan masa depan dan keselamatan mereka.

Untuk para perempuan, saya ingin mengingatkan agar tidak hanya melihat seberapa romantis seseorang. Perhatikan juga bagaimana sikap dan karakternya.

Tanyakan pada diri sendiri:
Apakah ia menghormati batasan yang Anda miliki?
Apakah ia dapat menerima kata “tidak”?
Apakah ia menghargai hubungan Anda dengan keluarga dan sahabat?
Apakah ia mudah marah ketika keinginannya tidak dituruti?
Apakah ia sering mengancam akan menyakiti diri sendiri jika Anda ingin pergi?
Apakah ia meminta akses ke seluruh akun media sosial dan kata sandi Anda?
Apakah kehadirannya membuat Anda merasa aman atau justru merasa takut?

Karena cinta yang sehat akan membuat seseorang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Sebaliknya, cinta yang tidak sehat akan membuat seseorang hidup dalam tekanan dan ketakutan. Apalagi dalam status yang belum jelas dalam ikatan pernikahan.

Islam tidak pernah membenarkan hubungan yang diwarnai kezaliman dan penindasan. Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)

Artinya, ukuran cinta dalam Islam bukanlah seberapa posesif seseorang terhadap pasangannya, melainkan seberapa besar ia menjaga, menghormati, melindungi, dan memuliakan orang yang dicintainya.

Semoga kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk membangun keluarga dan hubungan yang sehat, penuh penghormatan, serta jauh dari segala bentuk kekerasan.

Wallahu a’lam bish shawab.

Tags: