Mengetahui, mengenal, dan mempelajari tentang Allah Ta’ala tentu saja sangat penting bagi kita. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut ini:
Pertama, karena al-maudhu (pembahasan) tentang Allah Ta’ala adalah al-mudhu (pembahasan) yang sangat agung. Allah Ta’ala adalah Rabbul ‘alamin. Rabb arti aslinya: “Yang Empunya” (pemilik). Di dalamnya terkandung pula arti: mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaannya yang sempurna dengan berangsur-angsur. ‘Alamin artinya “semesta alam”, yakni semua jenis alam, yaitu: alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, dan alam makhluk yang bertubuh halus seperti malaikat, jin serta alam yang lain.
فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Jatsiyah, 45: 36)
Mengingat kedudukan Allah Ta’ala yang demikian agung itulah maka penting bagi manusia untuk mengetahui, mengenal, dan mempelajari-Nya. Terlebih lagi tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba tidak akan dapat merealisasikan tujuan tersebut, jika dia tidak mengenal-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat : 56)
Syaikh as-Sa’dy rahimahullah berkata tentang ayat ini. “Hal itu erat kaitannya dengan ma’rifatullah. Karena sesungguhnya kesempurnaan ibadah dipengaruhi oleh ma’rifatullah. Bahkan, setiap kali bertambah pengenalan seorang hamba kepada Allah, maka akan semakin sempurna ibadahnya.” (Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 755).[1]
Kedua, pemahaman dan pengetahuan kita tentang Allah Ta’ala harus didukung quwwatut dalil (dalil-dalil yang kuat). Dalil-dalil yang dimaksud adalah:
Dalil naqli (nash yang tertulis dalam kitab). Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
“Katakanlah: ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah’. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?’ Katakanlah: ‘Aku tidak mengakui.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)’”. (QS. Al-An’am, 6: 19)
Dalam tafsir Al Jalaalain diterangkan, bahwa ayat ini turun ketika orang-orang kafir berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bawalah kepada kami saksi terhadap kenabianmu, karena Ahli Kitab mengingkarimu.”[2]
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah cukup menjadi penjelasan akan kebenaran risalah yang dibawanya. Tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk memberikan penjelasan. Ia diturunkan untuk dibaca dan dipelajari. Nabi diutus untuk membacakannya dan mengajarkannya kepada kita. Mereka yang sungguh-sungguh memperhatikan Al-Qur’an pasti akan mendapatkan dalil-dalil yang kuat tentang Allah, risalah, ibadah, alam semesta, manusia, dan kehidupan.
Dalil Aqli (akal/logika).
Dalil naqli (nash yang tertulis dalam kitab) akan semakin terbukti kebenarannya dengan dalil aqli (akal/logika) yang diperoleh dari ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Oleh karena itu Allah Ta’ala mendorong kita untuk memperhatikan dan memikirkan alam semesta yang maha luas ini. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..” (QS. Ali Imran, 3: 190)
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman’”. (QS. Yunus, 10: 101)
Dalil fithri (fitrah/naluri/sunnatullah).
Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya,
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’,” (QS. Al-A’raf, 7: 172)
Ayat ini mengisyaratkan tentang penciptaan manusia di atas fitrah/naluri untuk tunduk kepada Allah Ta’ala. Jika manusia menjaga dan mengikuti fitrahnya dengan benar, maka dia pasti akan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Menciptakan alam beserta isinya.
Tags:
















