Setelah membaca pembahasan sebelumnya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa syahadat bukanlah perkara yang sepele. Ucapan syahadat mengandung konsekuensi yang demikian besar di hadapan Allah Ta’ala.
Oleh karena itu kita perlu memperkokoh syahadat kita agar diterima oleh Allah Ta’ala.
Berikut ini syarat-syaratnya:
Pertama, (العلم المنافي للجهل). Artinya, didasari dengan ilmu yang menghilangkan kejahilan.
Syahadatain yang kita ucapkan harus didasari pengetahuan dan pemahaman, yakni tidak ada peribadahan kepada selain Allah Ta’ala dan menetapkan bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satunya yang patut diibadahi dengan sebenarnya. Syahadatain yang kita ucapkan harus menghilangkan kejahilan terhadap makna ini.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad, 47 : 19)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
Kedua, (اليقين المنافي للشك). Ucapan syahadatain harus didasari dengan keyakinan yang menghilangkan keraguan, dengan begitu ia tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai ujian dan cobaan yang menderanya. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat, 49: 15)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca: meninggal dunia) dengan membawa keduanya (syahadatain) dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga” (HR. Muslim No. 147)
Ketiga, (الإخلاص المنافي للشرك) didasari dengan keikhlasan (kemurnian iman) yang menghilangkan kesyirikan.
Keyakinan mengenai keesaan Allah itupun harus dilandasi keikhlasan (kemurnian) di hati, bahwa hanya Allah lah yang ia jadikan sebagai Ilah, tiada sekutu, tiada sesuatu apapun yang dapat menyamainya-Nya. Keikhlasan seperti ini akan menghilangkan syirik kepada sesuatu apapun juga. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah, 98 : 5)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari)
Keempat, (الصدق المنافي للكذب) didasari dengan kejujuran yang menghilangkan kedustaan.
Syahadatain itu juga harus dilandasi dengan kejujuran. Artinya, apa yang diucapkan oleh lisan harus sesuai dengan apa yang terdapat di dalam hati. Karena jika lisannya mengucapkan syahadatain, tapi hatinya meyakini sesuatu yang lain atau bertentangan dengan syahadatain, maka ini merupakan sifat munafik.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
“Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 8-9)
Lihatlah bagaimana syahadat orang munafik ditolak oleh Allah Ta’ala karena tidak dilandasi kejujuran, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun, 63: 1)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari)
Kelima, (المحبة المنافية للبغض والكراهة) didasari rasa cinta yang menghilangkan kebencian dan rasa tidak suka.
Maknanya adalah bahwa syahadatain yang diucapkan harus benar-benar lahir dari keterpautan hati kepada Allah Ta’ala. Dia berfirman,
Tags:
















