Penulis: Titik Yuliani (Anggota Relawan Literasi Kepri)
Ramadan selalu punya cara untuk menghidupkan hati. Di sudut Batam Kota, semangat itu terasa begitu nyata ketika DPC Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Batam Kota melalui Rumah Keluarga Indonesia (RKI) menggelar pesantren kilat (sanlat) khusus bagi ibu-ibu Majelis Taklim Ummul Khoir Sungai Panas, Senin-Selasa, 23-24 Februari 2026.
Semua bermula dari sebuah pertanyaan sederhana di grup WhatsApp.
“Ibu, apa sih itu sanlat?” tanya salah satu jamaah.
“Sanlat itu pesantren kilat, Bunda,” jawab tim RKI.
Pertanyaan yang tampak ringan itu justru menjadi pembuka bagi dua hari penuh makna.
Di bawah koordinasi Supartiyani Ketua RKI Kelurahan Sungai Panas, kegiatan sanlat digelar dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Sayup-sayup lantunan sholawat dari tim Hadroh Ummu Khoir membuka acara. Irama rebana yang lembut seakan mengetuk hati, mengajak para ibu melangkah masuk ke dalam majelis ilmu.
Agenda diawali dengan sholat Dhuha berjamaah, dilanjutkan sholat tasbih yang dipimpin oleh Widyaningsih, pengurus RKI Batam Kota. Dalam sujud-sujud panjang itu, para ibu larut dalam doa, memohon agar Ramadan kali ini menjadi lebih bermakna dari sebelumnya.
Suasana khusyuk berlanjut saat sesi tadarus Al-Qur’an dimulai. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing didampingi Ustadzah Yani, Ustadzah Zolla, dan Ustadzah Ratna. Satu per satu bacaan diperbaiki. Tajwid diluruskan. Makhraj dibenarkan. Tidak ada rasa malu, yang ada hanyalah semangat untuk menjadi lebih baik.
Namun sanlat bukan hanya tentang keseriusan. Tawa pun pecah ketika Titik, Ketua RKI Batam Kota, memandu sesi game ringan.
“Ayuk, semangat ibu-ibu. InsyaAllah agenda ini berlangsung dua hari. Nikmati keseruannya,” ujarnya penuh energi.
Keceriaan itu menyatu dengan semangat belajar, menciptakan suasana yang hidup dan hangat.
Puncak refleksi hadir ketika Zainal Setiawan dan Muharrikah menyampaikan materi bertema “Ramadan Menjadikan Diri dan Keluarga Dekat dengan Al-Qur’an.”
Muharrikah memaparkan tiga langkah sederhana namun mendalam: mengisi waktu menjelang berbuka dengan tilawah, memanfaatkan waktu sebelum sahur untuk menghafal minimal satu ayat, serta menghidupkan malam-malam Ramadan dengan sholat malam dan interaksi bersama Al-Qur’an.
Pesan itu sederhana, tetapi terasa kuat. Karena dari para ibu-lah cahaya Al-Qur’an akan memancar ke dalam rumah, menerangi anak-anak dan keluarga.
Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali riuh dengan pembagian hadiah bagi peserta terbaik dan doorprize untuk seluruh peserta. Senyum, tawa, dan rasa syukur berpadu menjadi satu.
Namun yang paling mengesankan bukanlah hadiahnya. Melainkan harapan yang tumbuh.
“Kami ingin melanjutkan lagi, belajar tahsin bersama ustadzah-ustadzah RKI,” ungkap salah satu peserta.
Gayung pun bersambut. Tim RKI berkomitmen insyaAllah akan melanjutkan pertemuan pasca Ramadan untuk memperdalam tahsin Al-Qur’an.
Sanlat ini bukan sekadar agenda dua hari. Ia adalah ikhtiar kecil yang menanam benih perubahan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menghidupkan rumah dengan ayat-ayat-Nya.
Dan dari majelis sederhana itu, para ibu pulang membawa satu tekad: menjadikan keluarga lebih dekat dengan Al-Qur’an, hari ini dan seterusnya.***
Tags:
















