Oleh: Ketua DPW PKS Kepri, Suryani
Hari ini sempena Hari Ayah Nasional, di acara Rakernas PKS, Presiden PKS melaunching Gerakan Nasional Kumpul Keluarga yang ditaja oleh BiPeKa (Bid.Perempuan & Keluarga).
Tentu ini bukan sekedar seremoni launching tapi harus menjadi sebuah gerakan di tengah maraknya kasus yang menimpa keluarga di Indonesia.
Para Ayah diminta meluangkan waktu minimal 1 minggu atau 1 bulan sekali untuk berkumpul bersama keluarga. Tidak harus mahal atau piknik kemana-mana tapi lebih kepada esensi meluangkan waktu untuk sekedar saling mendengarkan curhat, makan bareng dan kegiatan lain yang bisa membuat suasana semakin akrab di tengah keluarga.
Presiden PKS sehari sebelumnya menekankan pentingnya kehadiran ayah dalam proses pendikan di dalam keluarga, meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW. Dua sosok pribadi agung yang memiliki kelembutan terhadap anak-anaknya.
Indonesia dikatakan sebagai negara yang mengalami “fatherless” (menurut data UNICEF & BPS 2021) bukan karena sang ayah telah tiada, tetapi karena ia tidak hadir secara hati dan emosional. Ayah ada secara fisik, namun hatinya jauh; hadir di rumah, tapi tak menjadi pemimpin, pembimbing, dan pelindung bagi keluarganya.
Dalam pandangan Islam, ayah memegang amanah besar sebagai nakhoda keluarga menuju surga.
“Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayah bukan sekadar pencari nafkah, tapi penuntun arah. Ia memikul tanggung jawab membangun rumah tangga yang berlandaskan iman, akhlak, dan cinta kepada Alloh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Children see, children do
Anak-anak belajar bukan dari nasihat panjang, tapi dari keteladanan yang hidup. Ketika ayah menegakkan shalat tepat waktu, menjaga lisan, menahan amarah, dan lembut pada ibunya, maka ia sedang mengajarkan Islam tanpa kata.
Ayah yang hadir bukan hanya mengontrol, tetapi mendampingi dan membimbing dengan kasih. Ia hadir di hati anak-anaknya, bukan sekedar di foto-foto keluarga.
Fenomena fatherless, ayah tanpa jiwa melahirkan generasi yang kehilangan arah, rapuh secara emosional, dan mudah terombang-ambing.
Ayah terlalu sibuk mengejar dunia, lupa menyiapkan anak untuk akhirat.
Ayah menyerahkan sepenuhnya pendidikan pada ibu, sekolah, atau hp. Padahal, kehilangan ayah secara batin lebih berbahaya dari kehilangan ayah secara lahir.
Ayah sejati adalah yang menjadi jalan keluarganya menuju surga. Ia menanamkan iman, menumbuhkan cinta ibadah, dan menciptakan suasana rumah yang penuh sakinah. Ia mengajak, bukan memaksa; menasihati dengan kasih, bukan dengan amarah.
Ia sadar, keberhasilannya bukan diukur dari harta atau jabatan, tapi dari apakah tangan anak-anaknya akan menggandengnya menuju surga.
Selamat Hari Ayah untuk Abahnya anak-anak dan para Ayah di manapun berada.
Tags:
















