Pernikahan Adalah Penyatuan Cinta

Pernikahan telah menyatukan bukan saja tubuh dua insan—laki-laki dan perempuan. Pernikahan telah menyatukan dua cinta, dua cita-cita, dua hati, dua perasaan, bahkan dua jiwa yang berbeda.

Suami dan istri berkolaborasi dalam kehidupan keluarga, dengan ikatan cinta kasih yang tulus, untuk menempuh kehidupan dalam kebersamaan. Keluarga telah meleburkan suami dan istri dalam sebuah ikatan yang sangat kuat—tidak ada ikatan sekuat dan sehangat ikatan yang muncul dalam pernikahan.

Ikatan itu menjadi kuat karena atas nama Allah. Ikatan ketuhanan yang sangat sakral. Cinta yang dibangun atas nama-Nya.

Maka, dalam kehidupan sehari-hari suami dan istri harus berusaha saling memberikan yang terbaik kepada pasangan. Bukan menuntut dari pasangan.

Jika suami dan istri selalu memberikan yang terbaik, mereka akan mendapatkan pula dari pasangannya. Namun, jika suami dan istri lebih mendahulukan menuntut dari pasangan, mereka tidak akan mendapatkan.

Sikap menuntut ditunaikannya hak pasangan merupakan sebentuk pengingkaran dari konsekuensi cinta kasih. Karena cinta itu artinya memberi, bukan menuntut diberi.

Wujud tertinggi dari cinta—menurut Erich Fromm—adalah hasrat untuk memberi yang terbaik bagi orang yang dicintai.***

Tags: