Keesaan Allah

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Kamu (orang-orang musyrik) tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan (hukum tentang hal itu) hanyalah kepunyaan (hak) Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf, 12: 40)

Konsekuensi dari pengakuan Allah Ta’ala sebagai Hakiman adalah keyakinan bahwa tidak ada yang berhak menentukan aturan-aturan, kecuali Allah Ta’ala. Tidak ada yang diperkenankan menentukan halal dan haram, boleh dan tidak boleh, benar dan salah, kecuali dengan mengikuti dan menyesuaikan dengan perintah serta ketetapan Allah Ta’ala.

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
“Dan kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah, 5: 48-50).

Allah, Dialah Raja yang harus ditaati (Malikan Mutha’an). Hanya kepada-Nya kita patuh, yakni dengan senantiasa menselaraskan seluruh aktivitas yang kita kerjakan dengan hukum-hukum-Nya.

Tauhidul Uluhiyah

Tauhid uluhiyah artinya mengesakan uluhiyatullah, yakni Dialah satu-satunya ghaayatan dan ma’buudan.

Allah adalah Ghaayatan, artinya Dia adalah satu-satunya tujuan dan orientasi dalam kehidupan ini. Hanya kepada-Nya kita persembahkan seluruh ibadah kita.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
”Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.” (QS. Al-An’am, 6: 162)

Allah adalah Ma’buudan, artinya Dia adalah satu-satunya Dzat yang diibadahi, kepada-Nya kita berdo’a (Al-Mu’min, 40: 60), kepada-Nya kita khauf –takut- (Ali Imran, 3: 175), kepada-Nya raja’ –berharap- (Al-Kahfi, 18: 110), kepadanya tawakkal –berserah diri- (Al-Maidah, 5: 23), kepada-Nya raghbah –penuh minat-, rahbah –cemas-, dan khusyu’ –tunduk- (Al-Anbiya, 21: 90), kepada-Nya khasyyah –takut- (Al-Baqarah, 2: 150), kepada-Nya inabah –kembali- (Az-Zumar, 39: 54), kepada-Nya isti’anah –memohon pertolongan- (Al-Fatihah, 2: 5), kepada-Nya isti’adzah –memohon perlindungan- (Al-Falaq, 113: 1), kepada-Nya istighotsah –memohon pertolongan untuk dimenangkan- (Al-Anfal, 8: 9), kepada-Nya dzabh –penyembelihan- (Al-An’am, 6: 162-163), kepada-Nya nadzar (Al-Insan, 76: 7).

Syaikh Yusuf Qaradhawi menjelaskan tentang tauhid uluhiyah sebagai berikut. “Mengesakan Allah dalam beribadah, tunduk dan taat secara mutlak. Tidak disembah (diibadati) kecuali Allah semata, tidak sesuatu pun di bumi atau di langit disekutukan dengan-Nya.”

Ringkasnya, Dialah Allah, Ilaahan ma’buudan (Ilah Yang [berhak] Disembah).

Tauhidullah ini diproklamirkan oleh setiap muslim dengan kalimat yang ringkas dan padat: La Ilaha Illa-Llah.

Wallahu a’lam.

Tags: