KEPRI – Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kepulauan Riau, Suryani, menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus kekerasan dan tragedi keluarga yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Suryani, peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan indikator serius adanya krisis nilai, krisis pengasuhan, dan melemahnya ketahanan keluarga.
“Belakangan ini hampir setiap hari kita mendengar kejadian yang sulit diterima akal sehat. Ada anak membunuh ibu dan saudara-saudaranya, anak bunuh diri karena tak mampu membeli buku, hingga anak yang meninggal tertabrak truk saat meminta nasi kepada ibunya. Ini bukan kejadian biasa,” ujar Suryani.
Suryani menegaskan, keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Ketika hubungan dalam keluarga rapuh, dipenuhi konflik, minim komunikasi, serta kehilangan nilai-nilai spiritual, maka potensi kekerasan dalam rumah tangga akan semakin besar, bahkan dalam bentuk yang paling ekstrem.
“Jika keluarga runtuh, maka masyarakat dan negara akan ikut rapuh. Ketahanan keluarga bukan hanya isu domestik atau lokal, tapi sudah menjadi isu keamanan sosial yang mengancam masa depan bangsa,” tegas Suryani.
Sebagai aktivis dan konselor ketahanan keluarga, Suryani mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para orang tua, untuk terus membekali diri dengan keterampilan pengasuhan.
Menurut Suryani, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua, sehingga ayah dan ibu perlu terus belajar, terutama dalam hal komunikasi empatik dan manajemen konflik keluarga.
Suryani juga menyerukan kepada seluruh kader PKS untuk aktif melakukan penguatan pendidikan keluarga berbasis nilai agama dan akhlak.
“Tanpa iman, akhlak, dan keteladanan, ilmu dan teknologi justru bisa melahirkan generasi cerdas tetapi kehilangan nurani,” kata Suryani.
Suryani berharap negara lebih serius menjadikan ketahanan keluarga sebagai kebijakan strategis nasional, bukan sekadar slogan.
Program parenting, kesehatan mental keluarga, dan perlindungan anak, menurutnya, harus menjadi agenda nasional yang terintegrasi lintas kementerian dan pemangku kepentingan.
“Masalah ketahanan keluarga bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua. Lingkungan dan masyarakat harus lebih peduli, jangan biarkan persoalan keluarga dianggap urusan privat semata hingga akhirnya meledak seperti fenomena gunung es,” ujar Suryani.
Mengutip teladan Rasulullah SAW, Suryani mengingatkan bahwa setiap individu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Suryani menekankan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada ekonomi dan infrastruktur, tetapi harus dimulai dari keluarga yang sehat secara fisik, mental, spiritual, dan ekonomi.
“PKS berkomitmen terus mendorong kebijakan publik di tingkat pusat, wilayah, dan daerah untuk memperkuat ketahanan keluarga. Dari keluarga yang kuat akan lahir pribadi yang kuat, dan dari sanalah fondasi negara yang kokoh dibangun,” pungkas Suryani.***
Tags:Suryani
















