Dimana ada Pakde Di Situ ada Bude! Romantisme Perjuangan Keluarga Kader PKS Sagulung

Bermula dari Menuntut Ilmu

DI tengah suasana khidmat Musyawarah Ranting (Musran) dan Pelantikan Pengurus DPRa se-Kecamatan Sagulung, sebuah momen hangat menyentuh hati hadir di OS Style Hotel, Ahad (18/1/2026).

Pasangan Suryono dan Sri Lestari yang akrab disapa Pakde dan Bude dinobatkan sebagai Keluarga Tangguh oleh DPC Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sagulung.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris DPW PKS Provinsi Kepulauan Riau, H. Syaifudin Fauzi, di dampingi Ketua DPC PKS Sagulung, Eko Indra Wahyudi.

Tepuk tangan kader yang memenuhi ruangan menjadi saksi atas perjalanan panjang pengabdian keluarga sederhana yang sarat keteladanan ini.

Di kalangan kader PKS dan masyarakat, Pakde dan Bude dikenal dengan senyum ramah dan sikap rendah hati.

Tak banyak yang menyangka, perjalanan mereka di PKS bermula dari sebuah kebutuhan sederhana: mendampingi anak menghafal Al-Qur’an.

Sri Lestari atau Bude mengenang, lebih dari 20 tahun lalu ia mulai mengikuti pengajian agar mampu membimbing hafalan anaknya.

Dari majelis taklim tanpa pungutan biaya itulah, ia perlahan menemukan bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga lingkungan persaudaraan yang saling menguatkan telah menyentuh hatinya.

Kadang di sela waktu setelah pengajian, terdapat diskusi dan juga pembahasan tentang problematika kehidupan berikut solusinya yang dipaparkan oleh sang guru yang dalam hal ini disebut Murobbi. Yang ia ketahui belakangan sosok sang guru ngaji merupakan anggota PKS.

Mengikuti Kegiatan Positif Orang Berilmu

“Setelah mengaji, kami biasa berdiskusi santai, waktu itu murobbi bercerita tentang khidmatnya di PKS, dan mengajak untuk mengikuti kegiatan yang akan dilaksanakan. Waktu itu saya belum tertarik untuk ikut kegiatan,” tutur Bude dengan jujur.

Seiring waktu, Bude pun menyadari banyak kegiatan positif yang ditawarkan oleh sang Murobbi, meskipun tidak dalam rangka Pemilu.

Di antaranya PKS rutin mengadakan bakti sosial, cek kesehatan, senam kesehatan, pengajian, tatsqif hingga buka puasa bersama ribuan kader PKS. Meski hanya berpendidikan sekolah dasar, Bude memberanikan diri bertahan di lingkungan yang menurutnya dipenuhi orang-orang berilmu.

Ia masih mengingat nasihat seorang ustadz tentang perumpamaan rambutan merah dalam satu keranjang, jika ada satu rambutan muda berwarna hijau namun tetap berada di tempat yang sama, maka ia akan ikut terbawa.

Indahnya Berjuang Bersama

Dari sanalah tekad Bude tumbuh untuk terus belajar dan berkhidmat. Lalu kemudian Pakde pun ikut bergabung dan mendukung aktifitas Bude yang dinilainya positif dan banyak sekali membawa perubahan kebaikan.

Seiring waktu, aktifitas Pakde dan Bude di PKS semakin intens di PKS, kontribusi keduanya pun dinilai positif membawa semangat di kalangan kader, meskipun dengan usia yang tak lagi muda. Sampailah waktunya Pakde diminta oleh Pengurus PKS untuk menjadi salah satu pengurus di tingkat Keluarahan yaitu Dewan Pengurus Ranting (DPRa) PKS Sungai Binti.

Awalnya Pakde menolak, karena kekhawatiran belum mampu mengembang amanah tersebut. Namun dengan dorongan para ustadz dan dukungan Bude yang menilai kesempatan berkontribusi dan beramal lebih luas tidak datang dua kali, akhirnya Pakde menerima amanah tersebut.

“Kalau sudah Bude yang bilang oke, Pakde biasanya nggeh saja,” kenangnya sambil tersenyum. Menunjukan betapa gambaran cinta dan kepercayaan antar keduanya sudah sampai pada tingkat keyakinan untuk saling mendukung.

Pada periode 2025-2030 ini, Pakde Suryono diamanahkan sebagai Tim Sekretariat DPC PKS Sagulung. Sementara Bude Sri Lestari aktif di Sub Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) DPC PKS Sagulung.

Tak sampai disitu, semangat dan dedikasi pasangan ini menular dan berlanjut ke generasi berikutnya, kepada sang anak, Ghifari Aufa Sholikhun, yang diamanahi sebagai Sekretaris DPRa PKS Sungai Binti.

Ketua DPC PKS Sagulung, Eko Indra Wahyudi, menyebut keluarga ini sebagai teladan nyata bagi kader PKS. Menurutnya, debut struktural Pakde dan Bude dimulai sekitar 15 tahun lalu di DPRa Sungai Binti, dengan segala keterbatasan sumber daya.

“Meski sederhana, mereka kaya dedikasi dan ide-ide cemerlang. Kontribusinya berdampak besar bagi perkembangan kader PKS, tidak hanya di Sungai Binti, tetapi juga kelurahan sekitar,” ujarnya.

Bagi Bude, penghargaan ini bukan akhir, melainkan pengingat diri untuk terus berkhidmat. Ia berharap PKS tetap istiqamah dan tidak lelah dalam perjuangan.

Dimana ada Pakde di situ ada Bude!

Romantisme Pakde dan Bude sudah banyak diketahui kader di Kecamatan Sagulung, kadang setiap bertemu salah satunya.

“Setiap kali ada yang ketemu saya di kegiatan, selalu yang ditanyain Pakde, Pakde mana Bude?, dan Pakde pun juga gitu, pada nanyain, Bude-nya mana Pakde?”, ucap Bude dengan sedikit tersipu.

Seolah tak mau terpisahkan, Pakde dan Bude selalu bersama dalam aktifitas hariannnya, begitu pun di setiap kegiatan PKS. Dan bahkan keduanya pun saat ini aktif berkhidmat bersama menjadi terapis Totok punggung yang telah banyak menterapi pasien.

Bude menyampaikan, kita semua akan terus berjuang dan beramal untuk masyarakat bersama PKS.

“Ke surga tidak bisa sendiri. Dengan kebersamaan, insyaallah kita saling meluruskan jalan,” ucapnya.

Kisah Pakde dan Bude menjadi bukti bahwa ketangguhan keluarga bukan diukur dari gelar atau materi, melainkan dari keikhlasan, kebersamaan, dan konsistensi dalam berbuat untuk kebaikan umat.***

Tags: