Di Balik “Izin Ga Hadir Dulu”

Di grup WA liqo malam itu cuma ada satu pesan pendek.

“Afwan ustadz, izin ga hadir dulu. Masih banyak urusan.”
Lalu sunyi.

Ga ada yang salah.
Ga ada yang jahat.
Semua orang sebenarnya sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

Murabbi sedang lelah membagi waktu. Anggota sedang sibuk bertahan hidup.
Ada yang pulang kerja badannya remuk.
Ada yang di rumah sedang banyak masalah. Ada yang diam-diam cemas soal biaya sekolah anak. Ada juga yang terlihat paling ceria, tapi sebenarnya tiap malam susah tidur karena memikirkan masa depan.

Dan hidup memang kadang seperti itu.
Semakin dewasa, manusia makin pandai tersenyum sambil menyimpan lelah.
Dulu waktu awal ikut liqo, rasanya ringan. Datang dengan semangat.
Diskusi sampai malam.
Bercanda.
Makan gorengan.
Pulang hati hangat.
Sekarang?
Jangankan setor hafalan.
Kadang untuk hadir tepat waktu saja rasanya seperti mendaki gunung sambil bawa galon Aqua.

Bukan karena imannya habis.
Kadang energinya saja yang sudah hampir habis.
Dan mungkin di situlah kita semua perlu belajar lagi… bahwa tidak semua orang yang menjauh itu ingin pergi.

Ada yang sebenarnya masih sayang.
Masih cinta dakwah.
Masih ingin duduk di lingkaran itu.
Masih rindu suasana saling mengingatkan.
Tapi hidup terlalu berisik di kepalanya.
Tagihan datang.
Target kerja datang.
Masalah keluarga datang.
Rasa takut datang.
Sementara umur makin bertambah. Tanggung jawab makin besar.
Tenaga tidak lagi seperti dulu.

Kadang seseorang tidak butuh ditanya, “Kenapa antum jarang hadir?”

Dia cuma butuh didengar, dimengerti dan dikuatkan.

Karena ada orang-orang yang kuat menghadapi dunia… tapi hancur ketika merasa sendirian.
Dan liqo seharusnya menjadi tempat pulang.

Bukan tempat berpura-pura kuat.
Tempat orang bisa bilang, “Ana lagi turun neh.” Lalu yang lain menjawab: “Gapapa akh. Sabar… Kita sama2 naik bareng.”

Mungkin selama ini kita terlalu fokus memperbaiki target, sampai lupa menjaga hati.
Padahal dakwah bukan perlombaan siapa paling sempurna. Karena kalau menunggu sempurna, mungkin tidak ada satu pun dari kita yang layak duduk di sana.

Liqo bukan kumpulan malaikat.
Isinya manusia biasa.
Yang kadang semangat.
Kadang lemah.
Kadang kuat.
Kadang ingin menyerah.
Dan justru karena itulah kita saling membutuhkan.

Mungkin sudah waktunya liqo bukan hanya menjadi tempat menyampaikan materi, tetapi juga tempat memeluk yang hampir patah.
Bukan cuma tempat mengingatkan amal, tetapi tempat menjaga harapan.

Karena bisa jadi… satu kalimat hangat, satu obrolan sederhana, satu ajakan ngopi tanpa menghakimi, lebih menyelamatkan seseorang daripada nasihat panjang berlembar-lembar.

Tidak perlu saling menyalahkan.
Tidak perlu merasa paling benar atau paling lemah.
Kita semua sedang belajar. Sedang bertumbuh. Sedang sama-sama mencari jalan pulang menuju Allah dengan langkah yang tertatih-tatih.
Dan mungkin… perbaikan besar itu tidak dimulai dari forum besar.
Tapi dimulai dari hal kecil.

Mulai lebih banyak mendengar.
Lebih sedikit menghakimi.
Lebih ringan memeluk.
Lebih tulus menemani.
Karena di zaman ketika semua orang sibuk terlihat kuat, orang yang mau memahami tanpa menghakimi… adalah nikmat yang mahal sekali.

Bangjian, temen ngupi tanpa gula.

Tags: