Oleh: Titik Yuliani (Ketua Bipeka PKS Batam Kota)
Ahad pagi, 25 Januari 2026, Hotel PIH Batam Center belum sepenuhnya ramai ketika sejumlah panitia sudah sibuk hilir mudik. Senyum disiapkan, meja dirapikan, alur acara dipastikan berjalan tanpa cela.
Hari itu, Pelantikan dan Musyawarah Ranting (Musran) Pengurus Dewan Pengurus Ranting (DPRa) se-Kecamatan Batam Kota akan digelar.
Bagi sebagian orang, pelantikan mungkin hanya seremonial. Namun bagi para panitia dan kader yang terlibat, agenda ini adalah ruang pengabdian tempat lelah diuji dan keikhlasan dimurnikan.
Datang lebih awal, memastikan tamu terlayani dengan baik, dan menjaga suasana tetap hangat menjadi tanggung jawab bersama.

Ada peluh yang jatuh, ada kantuk yang disimpan, dan ada letih yang tak selalu terucap. Dalam kondisi seperti itu, perasaan manusiawi kerap muncul: lelah yang nyaris berubah menjadi keluhan, keikhlasan yang sesaat terasa berat.
Namun justru di situlah makna pelayanan diuji apakah tetap lurus sebagai bagian dari ibadah.
Rangkaian acara kemudian memasuki sesi yang paling ditunggu: taujih yang disampaikan oleh Ustadz Bakhtiar.
Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, beliau mengingatkan kembali ruh hidup berjamaah yang bertumpu pada tiga nilai utama: saling menguatkan, saling menjaga, dan saling mengingatkan.
Tentang saling menguatkan, Ustadz Bakhtiar menegaskan bahwa setiap kader pasti pernah berada di titik lelah, futur, bahkan ingin berhenti. Di saat itulah jamaah hadir, bukan untuk menghakimi, melainkan merangkul.
Satu kalimat tulus, menurutnya, bisa menjadi penopang bagi semangat yang hampir padam.
Sementara saling menjaga dimaknai lebih luas dari sekadar menjaga perasaan. Menjaga iman, niat, kehormatan, serta marwah perjuangan adalah bagian tak terpisahkan.
Jamaah yang kokoh bukanlah yang bebas dari perbedaan, melainkan yang mampu saling melindungi dari prasangka, lisan yang melukai, dan sikap yang meretakkan ukhuwah.
Adapun saling mengingatkan, disebut sebagai puncak cinta dalam berjamaah. Mengingatkan bukan karena merasa paling benar, tetapi karena kepedulian agar sesama tetap berada di jalan yang lurus.
Dengan adab, kelembutan, dan kasih sayang, jamaah menjadi ruang saling menuntun di tengah sifat manusia yang mudah lupa.
Taujih itu seolah menjadi jawaban atas kegelisahan yang dirasakan banyak orang pagi itu.
Lelah yang sempat mengendap terasa terangkat, keluhan yang nyaris muncul kembali diluruskan, dan hati yang rapuh ditegakkan kembali.
Pelantikan dan Musran ini pun menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia menjelma ruang penguatan ruh, pengingat niat, dan pemurnian tujuan.
Bahwa perjuangan bukan tentang siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling ikhlas melayani.
Menjadi bagian dari PKS baik sebagai pengurus, panitia, maupun jamaah mengajarkan satu pelajaran penting: lelah dalam kebaikan tidak pernah sia-sia.
Setiap peluh yang jatuh dalam pelayanan akan bernilai pahala ketika dibungkus keikhlasan.
Hari itu, banyak yang pulang dengan hati lebih tenang dan lapang.
Lebih siap untuk kembali menghidupkan nilai-nilai dasar perjuangan: menguatkan sesama, menjaga amanah, dan saling mengingatkan agar tetap lurus di jalan yang diyakini.
Bukan sekadar pelantikan, melainkan momentum mengokohkan kesetiaan untuk tetap melangkah meski lelah, dan terus melayani meski tak selalu dipuji.***
Tags:
















