Oleh: Wildan Hakim
Muhasabah Jiwa
Kadang kita merasa sudah lama berjamaah.
Langkah kita rapi.
Agenda kita penuh.
Struktur kita berjalan.
Namun malam-malam tertentu,
saat kita sendirian di hadapan Alloh,
muncul satu pertanyaan yang menusuk dada:
“Apakah hatiku masih hidup di jamaah ini…
atau hanya tubuhku yang tersisa?”
Alloh Ta‘ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۖ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Alloh, dan janganlah bercerai-berai. Ingatlah nikmat Alloh kepada kalian ketika dahulu kalian bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hati-hati kalian, sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara.” (QS. Āli ‘Imrān: 103)
Perhatikan, wahai jiwa yang lelah…
Alloh tidak berkata: lalu Aku rapikan barisan kalian.
Allah berkata: “Aku satukan hati-hati kalian.”
Karena jamaah yang Alloh kehendaki
bukan sekadar barisan yang lurus,
tetapi hati-hati yang saling memeluk dalam iman.
Berapa banyak dari kita yang masih berdiri di shaf yang sama,
namun hatinya telah menjauh…
mudah curiga,
kering empati,
cepat menghakimi saudara sendiri.
Sayyid Qutb rahimahullah menulis dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān:
إنها رابطةُ العقيدة… هي التي تُؤلِّف بين القلوب، وتجعل الجماعة جسدًا واحدًا، لا مجردَ تجمعٍ تنظيميٍّ أو مصلحيٍّ
“Ia adalah ikatan akidah; ikatan inilah yang menyatukan hati dan menjadikan jamaah sebagai satu tubuh, bukan sekadar kumpulan yang bersifat organisatoris atau pragmatis.”
Maka jika jamaah terasa dingin,
bukan karena kurangnya agenda,
tetapi karena ikatan akidah di hati mulai melemah.
Imam Hasan al-Banna rahimahullah berwasiat dalam Majmū‘at ar-Rasā’il:
الأخوّةُ ركنٌ من أركان دعوتنا، ولا تقومُ إلا على الحبِّ في الله
“Ukhuwah adalah rukun dari dakwah kami, dan ia tidak akan tegak kecuali di atas cinta karena Alloh.”
Renungkan…
jika ukhuwah adalah rukun,
lalu bagaimana nasib dakwah
saat cinta karena Alllh mulai mengering?
Beliau melanjutkan:
قوّةُ الدعواتِ في تماسكِ صفوفها، وتماسكُ الصفوفِ لا يكونُ إلا بتآلفِ القلوب
“Kekuatan dakwah terletak pada kokohnya barisan, dan barisan tidak akan kokoh kecuali dengan bersatunya hati.”
Bisa jadi barisan kita masih berdiri,
tetapi hatinya sudah retak.
Dan retakan hati itulah
yang kelak merobohkan segalanya.
Mustafa Masyhur rahimahullah mengingatkan dengan nada seorang ayah kepada anaknya dalam Fiqh ad-Da‘wah:
إن وحدةَ الصفِّ لا تتحققُ بالأوامرِ وحدها، وإنما تتحققُ بالمحبةِ الصادقة، والثقةِ المتبادلة، والنصيحةِ المخلصة
“Kesatuan barisan tidak terwujud hanya dengan perintah-perintah, tetapi terwujud dengan cinta yang tulus, kepercayaan yang saling terjaga, dan nasihat yang ikhlas.”
Maka bermuhasabahlah, wahai jiwa:
🍁Kapan terakhir kali kita menasihati tanpa merendahkan?
🍁Kapan terakhir kali kita mengoreksi sambil mendo’akan?
🍁Kapan terakhir kali kita menangis
karena takut kehilangan saudara seiman,
bukan karena ingin menang dalam perdebatan?
Berjamaah dengan cinta berarti:
🍁Tetap taat, meski hati lelah.
🍁Tetap lembut, meski amanah berat.
🍁Tetap setia, meski tak dipuji.
Karena kita tidak berkumpul demi manusia,
tetapi demi Alloh.
Dan kita tidak akan sampai kepada Alloh
dengan hati yang saling melukai.
🌧️ Jika hari ini jamaah terasa berat,
mungkin bukan jalannya yang salah,
tetapi cinta kita yang mulai hilang.
🌹 Ya Alloh, satukan kembali hati kami.
Jika langkah kami masih bersama
namun hati kami telah berjauhan,
maka jangan Engkau biarkan kami tertipu
oleh barisan yang rapi
tanpa cinta yang hidup.
Karena kami ingin berjamaah
bukan hanya sampai akhir agenda,
tetapi sampai akhir hayat…
bersama hati yang saling mencintai karena-Mu.
…..
Di Pembaringan ‘Uzlah & Muhasabah
Alfaqier Ilaa ‘Afwi Rabbih
Tags:
















