Kepeloporan dalam rūḥiyyah dan ma‘nawiyyah, dalam mentalitas dan moralitas
KH. Hilmi Aminuddin
Kepeloporan rūḥiyyah dan ma‘nawiyyah ini akan mudah terlihat dalam mawāqif (sikap-sikap) ketika menghadapi aneka ragam tantangan, tuntutan pengorbanan, dan risiko. Ia akan tampak dalam sikap-sikap yang tenang dan tidak gelisah, karena memiliki mustaqarrun nafsiyyan wa fikriyyān, yakni ketenangan dan stabilitas secara kejiwaan maupun pemikiran.
Di dalam situasi apa pun, kader dakwah seharusnya tidak tergoyahkan oleh tantangan, risiko, maupun ancaman apa pun. Al-riyādah ar-rūḥiyyah wa al-ma‘nawiyyah ini terbentuk oleh lima muwashshafāt (karakteristik utama) sebagaimana digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib ra.:
1. Al-khawfu min al-Jalīl, takut kepada Allah Yang Maha Agung.
2. Al-‘amalu bit-tanzīl, beramal dengan selalu berpanduan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3. Asy-syukru bil-jazīl, selalu bersyukur atas pemberian Allah yang demikian banyak dan tak terhitung — wa in ta‘uddū ni‘mata Allāhi lā tuḥṣūhā, jika kita ingin menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kita tidak akan sanggup menghitungnya.
4. Aṣ-ṣabru bil-qalīl, bersabar ketika menghadapi kekurangan fasilitas atau harapan yang belum terpenuhi, keinginan yang belum terealisasi, obsesi yang belum tercapai, situasi yang mungkin menyakitkan, ataupun kondisi yang mungkin merugikan.
5. Al-isti‘dādu li yawmi ar-raḥīl, bersiap diri untuk menghadapi hari kepergian (akhirat). Kita hidup dan berjuang untuk menang di dunia, tetapi orientasi hidup kita tetap harus tertuju pada akhirat.***
Tags:
















