Oleh: Ustadz Irwandi Al Busthomi (Ketua DSW PKS Kepri)
Sebagai partai Islam, PKS menjadikan agama sebagai lokomotif dalam bergerak di tengah masyarakat. Untuk memaksimalkan asas kemanfaatan kader PKS memiliki 5 karakter dasar yang dapat dilihat dan dikenali oleh masyarakat.
1. Kesederhanaan (al-Bisathoh)
Kesederhanaan adalah sikap hidup yang tidak berlebih-lebihan, baik dalam penampilan, gaya hidup, maupun cara berpikir. Orang yang memegang nilai al-bisathoh tidak terobsesi pada kemewahan atau pujian manusia, tetapi fokus pada kebermanfaatan dan keikhlasan. Ia mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sehingga hidupnya lebih tenang, tidak mudah iri, dan tidak diperbudak oleh dunia. Kesederhanaan juga melatih hati untuk qana’ah (merasa cukup), menjauhkan dari sikap sombong, serta mendekatkan diri pada ketawadhuan di hadapan Allah dan sesama manusia.
2. Shalat berjamaah di masjid (ash-Sholah)
Menjaga shalat berjamaah di masjid menunjukkan komitmen kuat terhadap ibadah dan kedisiplinan spiritual. Selain pahala yang lebih besar dibanding shalat sendirian, shalat berjamaah membangun rasa persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian sosial di antara kaum Muslimin. Seseorang yang rutin ke masjid biasanya lebih terjaga waktunya, karena hidupnya terikat dengan panggilan adzan. Masjid juga menjadi pusat pembinaan iman, ilmu, dan akhlak, sehingga ash-sholah berjamaah bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga sarana pembentukan karakter.
3. Punya rutinitas bacaan Al-Qur’an harian (at-Tilawah)
Membiasakan tilawah harian berarti menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup, bukan hanya dibaca sesekali. Dengan rutinitas ini, hati menjadi lebih lembut, pikiran lebih jernih, dan hidup lebih terarah karena selalu diingatkan oleh petunjuk Allah. Tilawah yang konsisten, walau sedikit, lebih baik daripada banyak tapi jarang. Selain membaca, idealnya disertai upaya memahami dan mengamalkan isinya, sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi cahaya dan pedoman dalam setiap aspek kehidupan.
4. Militan (al-Jundiyyah)
Sikap militan dalam makna al-jundiyyah bukan berarti keras atau kasar, melainkan kesiapan total untuk berjuang di jalan kebaikan dengan disiplin, loyalitas, dan ketangguhan. Ia siap menerima amanah, patuh pada aturan yang benar, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dakwah atau tugas keumatan. Orang yang memiliki jiwa jundiyyah bekerja bukan demi pujian, tetapi karena rasa tanggung jawab kepada Allah. Ia tangguh, tahan uji, dan konsisten dalam kontribusi, baik saat terlihat maupun tidak.
5. Berakhlak yang baik (al-Khuluq)
Akhlak yang baik adalah buah dari iman yang hidup dalam hati. Ini tercermin dalam tutur kata yang lembut, sikap yang santun, jujur, sabar, pemaaf, dan menghormati orang lain. Al-khuluq menjadikan seseorang nyaman berada di tengah masyarakat dan dicintai karena kebaikan perilakunya, bukan karena jabatan atau hartanya. Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan bahwa misi beliau adalah menyempurnakan akhlak, menunjukkan bahwa karakter mulia adalah inti dari ajaran Islam. Dengan akhlak yang baik, dakwah menjadi indah dan hubungan antarmanusia dipenuhi rahmat.
Tags:
















