24 Tahun PKS: Bertahan, Bertumbuh, dan Tetap Bersama Rakyat

Presiden PKS Almuzzammil Yusuf didampingi pengurus DPTW PKS Gorontalo silaturahim dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat Gorontalo di Warung Kopi Dino'x Pasar Tua, Kota Gorontalo, Sabtu (11/4).

Oleh : Murtini, S.TP _ Kabid Komdigi PKS Kab Madiun

Di bawah langit Pertiwi yang tak pernah benar-benar sunyi dari riuh harap dan cemas, perjalanan sebuah ikhtiar politik kerap kali menyerupai kisah panjang para pengembara: berdebu, berliku, kadang diterpa badai, namun tetap melangkah dengan keyakinan yang tak lekang oleh waktu.

Dua puluh empat tahun bukanlah sekadar hitungan angka dalam kalender sejarah; ia adalah rentang usia yang ditempa oleh ujian, kesetiaan, dan harapan yang berkali-kali diuji oleh realitas.

Sejak mula bersemi pada 20 April 2002, langkah itu tidak serta-merta menemukan jalan yang lapang. Ia tumbuh di tengah tanah yang kadang retak oleh krisis kepercayaan, di antara keraguan publik terhadap wajah politik yang kerap berubah arah. Dalam suasana demikian, berdiri tegak bukanlah perkara mudah. Banyak yang tumbang sebelum sempat berakar, banyak pula yang berubah arah demi sekadar bertahan. Namun ada pula yang memilih tetap berjalan, meski tertatih, meski tak selalu dimengerti.

Perjalanan itu, bagi Partai Keadilan Sejahtera, adalah kisah tentang kesabaran yang dirawat, tentang cita-cita yang tidak dibiarkan layu oleh musim. Ia bukan sekadar organisasi politik yang mengejar kursi kekuasaan, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk menanam nilai, menumbuhkan harapan, dan menjaga keyakinan bahwa politik dapat menjadi jalan pengabdian.

Betapa tidak, perjalanan dua dasawarsa lebih ini menyimpan banyak kisah yang tak selalu tampak di permukaan. Ada masa ketika suara rakyat terasa jauh dari genggaman, ada saat ketika badai opini menghantam dari segala penjuru, seakan hendak meruntuhkan kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah. Namun di tengah segala itu, tetap ada mereka yang memilih bertahan—para kader yang berjalan dari kampung ke kampung, menyapa dengan sederhana, mendengar dengan tulus, dan bekerja tanpa banyak sorot cahaya.

Barangkali di situlah letak kekuatan yang sering luput dari perhatian: kesediaan untuk tetap dekat dengan rakyat, bahkan ketika jalan menuju kekuasaan tidak selalu terbuka lebar. Sebab sesungguhnya, kekuatan bangsa tidak lahir dari gemerlap janji, melainkan dari ketulusan untuk hadir di tengah kebutuhan yang nyata.

Dalam denyut kehidupan masyarakat, persoalan ekonomi kerap menjadi nadi yang paling terasa. Harga yang naik, lapangan kerja yang menyempit, dan ketidakpastian masa depan menjadi beban yang dipikul oleh banyak keluarga. Di tengah realitas demikian, keberpihakan bukan lagi sekadar jargon, melainkan tuntutan yang harus diwujudkan. Ekonomi yang berpihak adalah ekonomi yang menghidupkan, bukan menyingkirkan; yang memberi ruang bagi usaha kecil untuk tumbuh, bukan sekadar memberi karpet merah bagi yang telah besar.

Demikian pula dengan pangan—urusan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya menjadi dasar dari kedaulatan bangsa. Ketika sawah-sawah menyempit, ketika petani kian renta dan generasi muda enggan turun ke ladang, di situlah masa depan diuji. Kemandirian pangan bukan sekadar impian romantik, melainkan kebutuhan yang mendesak. Sebab bangsa yang tidak mampu memberi makan dirinya sendiri akan selalu bergantung pada kemurahan pihak lain.

Di sisi lain, energi menjadi babak baru dalam pergulatan zaman. Dunia bergerak cepat, menuntut perubahan yang tak bisa ditunda. Ketergantungan pada sumber daya yang terbatas harus perlahan ditinggalkan, diganti dengan langkah-langkah berani menuju keberlanjutan. Energi bukan lagi sekadar soal pasokan, tetapi tentang keberanian mengambil arah yang lebih bijak bagi generasi mendatang.

Dalam ketiga bidang itulah—ekonomi, pangan, dan energi—terletak simpul-simpul perjuangan yang tak mudah diurai. Ia membutuhkan kerja panjang, kesabaran, dan keberanian untuk tetap konsisten di tengah godaan pragmatisme yang kerap menggoda.

Namun perjalanan ini bukan hanya tentang program dan kebijakan. Ia juga tentang manusia-manusia yang menghidupkannya. Tentang kader-kader yang memilih jalan sunyi pengabdian, yang mungkin tak selalu dikenal namanya, namun jejaknya terasa dalam kehidupan masyarakat. Mereka yang hadir di saat bencana, yang menyapa di saat sunyi, yang mengulurkan tangan tanpa menunggu sorot kamera.

Ada keindahan tersendiri dalam kesederhanaan itu. Sebuah keyakinan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Bahwa membangun bangsa tidak selalu harus dengan gebrakan yang mengguncang, tetapi dengan kesabaran yang menumbuhkan.

Tags: