GuidePedia

0
PKS Kepri - Arah politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hingga saat ini masih belum jelas. Partai yang dalam Pemilu 2014 diramalkan tidak lolos Parliamentary Threshold (PT) oleh sejumlah lembaga survei ini, tetap menjadi faktor penting dalam konstalasi Pilpres 2014.

Posisi politik PKS hingga sepekan usai pelaksanaan pemilu legislatif (pileg) belum jelas ke mana arahnya. Ada beberapa opsi yang bisa ditempuh PKS pasca-pileg ini, bergabung dengan poros Jokowi, poros Aburizal Bakrie, poros Prabowo Subiantotermasuk poros parpol Islam.

Menurut DPP PKS Zulkifliemansyah hingga saat ini PKS belum menentukan sikap politiknya terkait wacana koalisi partai politik menyongsong Pilpres 2014 pada 9 Juli mendatang. Saat ini, kata Zul, PKS berkonsentrasi mengamankan hasl suara Pileg. "Berbagai informasi dan fakta obyektif nanti akan disampaikan ke Majelis Syura yang akan dilaksanakan segera," ujar Zul saat dihubungi INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (13/4/2014).

Alumnus Harvard University ini mengatakan, rapat majelis syura menjadi penentu apakah PKS akan berkoalisi atau memilih menjadi oposisi. Ia menegaskan sampai saat ini belum ada keputusan politik apapun. "Posisi sekarang belum ada keputusan mau berkoalisi dengan siapa atau beroposisi," tegas anggota Komisi VI DPR RI ini.

Ketika ditanya tentang pernyataan sejumlah kader yang secara terang menolak untuk mendukung Jokowi atau mendukung calon tertentu, Zul memastikan hal tersebut merupakan suara pribadi kader. "Itu pendapat pribadi," Zul memastikan.

Penegasan ini menetralkan rumor yang santer muncul, khususnya sebelum dan sesudah pileg yang mengesankan PKS dipastikan tidak mendukung Jokowi atau tidak akan berkoalisi dengan PDI Perjuangan. Seperti santer yang disuarakan politikus PKS Fahri Hamzah dengan menulis tanda pagar #menolaklupa di akun twitternya yang berisi daftar "dosa" Megawati Soekarnoputri saat menjadi Presiden RI.

Sementara dihubungi terpisah Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti mengatakan agar partai yang mengidentifikasi sebagai partai Islam lebih realistis dalam membaca kondisi politik kekinian. Menurut dia, poros partai Islam hanyalah imajinasi saja.

"Pilihan yang tersedia, nampaknya hanya bergabung pada dua poros utama koalisi yakni koalisi yang nampaknya akan dipimpin PDIP, atau koalisi yang lain yang nampaknya akan dipimpin oleh Gerindra," sebut Ray.

Ray menyarankan partai-partai yang mengidentifikasi sebagai partai Islam agar realistis membaca dua kekuatan politik saat ini. Namun menurut Ray, posisi dan sikap partai politik Islam cukup penting agar proses pembentukan koalisi tidak semata-mata karena alasan imajinatif namun faktual dan realistis. "Dan yang paling utama tetap dalam bingkai kebhinekaan," tandas Ray.[inilah.com]

Post a Comment

 
Top