GuidePedia

0
PKS Kepri - Setelah Palestina dikuasai tentara Salib selama 90 th, maka Salahuddin Al Ayubi merebut kembali Al Quds ke dalam kekuasaan Islam. Penguasaan Jerussalem oleh Salahuddin Al Ayubi memberikan aura baru hubungan Islam-Kristen-Yahudi, karena ia mampu mengharmoniskan ketiga agama besar dalam lindungan Islam. Padahal, sebelumnya ketika berada dalam kekuasaan pasukan Salib, ketegangan hubungan antar umat beragama merupakan keseharian yang memilukan.

Jauh hari sebelum Al Ayubi menancapkan kebesaran Islam di Jerusalem, ia memulai langkah dengan menggelorakan sejarah kebesaran Islam dengan mengangkat kembali ketauladanan Rasulullah di kalangan umat Islam di sekitar Palestina, terutama di Mesir. Inilah cikal bakal peringatan Maulid yang menjadi salah satu Peringatan Hari Besar Islam di Indonesia.
Yang pasti, kemampuan Al Ayubi bersama para ulama untuk menggali kebesaran Rasulullah adalah sebuah upaya reaktulisasi Islam dalam kontek kehidupan ketika itu. Dan hal tersebut merupakan sebuah prestasi yang monumental, sehingga Al Ayubi adalah mujadid di zamannya.

Oleh karenanya di abad 21 sekarang, dengan kondisi umat Islam dalam posisi tergantung pada peradaban Barat (sama dengan ketika Al Ayubi belum menguasai Jerusalem) maka aktualisasi kebesaran Islam dan Ketauladanan Rasulullah merupakan keniscayaan. Artinya, inilah saat yang tepat bagi para ulama untuk membimbing umat Islam ke dalam suasana nubuwah, dengan mengambil hikmah dan pelajaran kehidupan Rasulullah untuk kemengangan umat Islam.

Islam dilahirkan menjadi pemimpin dunia, karena Islam memiliki nilai-nilai universal. Mengapa? Karena Islam dalam perjalanan peradaban telah menggabungkan keilahiyahan dengan rasionalitas menjadi kekuatan peradaban Islam. Peradaban Cordoba di Spanyol, Venesia di Italia, Abbasiyah di Iraq, Utsmani di Turki adalah contoh-contoh peradaban Islam yang menjadi obor dan cikal bakal peradaban Eropa selama hampir 7 abad.

Sebagai prestasi dalam skala peradaban Islam telah membuktikan kejayaannya di masa lalu. Dan sekarang, suka atau tidak suka, Barat menguasai peradaban dunia selama kurang lebih 300 th sejak abad 18. Itulah sebuah pergiliran (al mudawalah), untuk menguji ke-istiqomah-an Umat Islam dalam mengaplikasikan Islam sebagai way of life.

Kondisi umat Islam yang menjadi terbagi dalam firkoh-firkoh adalah bagian dari ujian itu. Dan, hanya mereka yang istiqomahlah yang akan memegang kendali peradaban esok kemudian hari. Dan sesuatu yang mustahil bila Allah memberikan kekuasaan pada umat Islam yang tidak kompeten, karena umat Islam yang seperti itu menjadi bahan cemooh atau penistaan orang atau kelompok yang tidak menyukai Islam. Sehingga Islam yang agung terkotori oleh sosok umat Islam yang tidak kompeten itu.

Dengan demikian, reaktualisasi Islam sebagai alternatif peradaban, pada saatnya nanti akan melengkapi kekurangan peradaban Barat yang sekuler. Sekulerisme itu terjadi karena peradaban Barat meletakkan manusia sebagai pusat perhatian atau antroposentris, sementara Islam menempatkan Allah sebagai pusat sumber energi peradaban.

Dalam suasana maulid di awal tahun ini, tidak salah kiranya, merupakan awal perubahan mindset umat Islam untuk menjadikan Rasulullah sebagai tauladan utama. Titik tolak itulah yang sesungguhnya harus dilakukan agar Islam menjadi penerang peradaban dunia. Kesadaran bahwa Islam adalah juru selamat seharusnya dipahami, sehingga estafeta peradaban di esok hari, berada di tangan yang benar.

Kita harus mengakui Barat dengan segala kelebihan dan kekurangannya tetap saja memandang manusia sebagai spectrum utama kehidupan, inilah falsafah peradaban Barat yang sekuler. Dan, hal tersebut berbeda dengan falsafah Islam, yang menjadikan Tuhan sebagai spectrum utama. Akan tetapi memandang sekulerisme saat ini, bukan dalam posisi setuju atau tidak setuju. Karena realitasnnya sekulerisme menjadi motor peradaban Barat, yang mau tidak mau dunia Islam terkena dampaknya.

Oleh sebab itu lebih bijaksana, bila kita memandang peradaban adalah buah ikhtiar manusia, dalam memberikan kebajikan kepada umat manusia. Upaya tersebut tentu bukan sebagai sesuatu yang muncul begitu saja, tetapi merupakan fashtabihul khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan). Untuk itu, kesadaran umat Islam untuk selalu mengeksplorasi dan mengekspalanasi ketauladan Rasulullah adalah langkah utama, agar Islam mampu menerangi peradaban dunia. Sehingga Islam sebagai rahmatan lil alamin bukan hanya menjadi jargon dakwah, tetapi realitas yang muncul.

Akhirnya, Islam sebagai alternatif pola kehidupan sangat tergantung pada kapasitas umat Islam sekarang. Bila umat Islam sekarang bersemangat meningkatkan kapasitasnya dalam ilmu dan iman, maka lebih mudah mengaktualisasikan ketauladanan Rasulullah dalam konteks kekinian.

Akan tetapi sebaliknya, bila umat Islam kurang bersemangat mengaktualisasikan ketauladan Rasulullah, maka jangan mengeluh, bila peradaban Barat akan terus memimpin, dan menjadikan ajaran Islam sebagai sesuatu yang inferior. Karena pada dasarnya masing-masing ideologi akan selalu berlomba-lomba untuk memimpin dunia, siapa yang kompeten dialah yang memimpin. Wallahu’alam Bishowab

Oleh Dra. Hj. Herlini Amran, MA

Post a Comment

 
Top