GuidePedia

0
Menjelang Pemilu 2014 mendatang, manuver parpol kian tak terduga, bahkan sifatnya lintas ideologi. Gambaran itulah setidaknya jika melihat pergerakan PKS Jawa Timur (Jatim). PKS Jatim saat ini tengah giat-giatnya mendekati Nahdlatul Ulama (NU).

"Sebenarnya PKS sudah menyambung komunikasi dengan Nahdliyyin sejak lama. Karena memang aslinya tidak jauh dan banyak kader dari NU. Contohnya paling nyata yaitu Sekretaris Umum PKS Jatim, Gus Siroj," ujarnya di Surabaya, Kamis (26/12).

Ia menjelaskan, kedekatan PKS Jatim dengan NU, tidak hanya terkait pemilu legislatif (Pileg). Hanya saja, menurut dia, memang belakangan ini lebih intensif.

Ia pun mengungkapkan beberapa alasan kedekata tersebut. Pertama, ia mengungkapkan, merupakan bentuk permintaan maaf karena masih kurang rajin sowan atau silaturrahim.

Kedua, kapasita PKS adalah ingin meminta tausiyah dari para alim ulama, terlebih kalangan Nahdliyyin.
"Dari sisi usia organisasi, pengalaman membina masyarakat, bahkan pengalaman berpolitik yang lurus dengan para ulama adalah gudangnya ilmu," katanya.

Di samping itu, PKS sangat memahami dan mengakui bahwa peran sejarah ulama dan pesantren sangat besar untuk membangun Indonesia.
Bagi PKS, Nahdliyyin terbesar di Indonesia. Sehingga, mendengar aspirasi Nahdliyyin, kata Hamy, sama dengan mendengar suara rakyat Indonesia.

Belum lama ini, PKS melakukan gerilya di beberapa pondok pesantren. Seperti yang dilakukan Presiden PKS, Anis Matta yang melakukan silaturrahim ke Pesantren Mambaush Sholihin di Suci, Manyar, Gresik.
Anis Matta juga diundang sebagai pembicara dialog kebangsaan di Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA). Rombongan besar DPP PKS dan DPW PKS Jatim juga menyempatkan sowan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Dalam kesempatan tersebut, Anis Matta yang tampil bersama Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan Awan syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Iskandar, mengatakan bahwa pesantren memiliki saham terbesar ketika perjuangan kemerdekaan. Sehingga membangun Indonesia ke depan tidak boleh mengabaikan peran pesantren.

"Budaya di pesantren sangat egaliter dan demokratis. Juga ada budaya penderitaan yang disengaja atau tirakat. Ini bekal warga pesantren menjadi pemimpin Indonesia. Saya juga keluarga pesantren. Dan dulu sangat akrab dengan menu nasi kecap khas santri," katanya. [mad/ant]

Post a Comment

 
Top