GuidePedia

0
Andrei Simanjuntak, MA memberikan sambutan di depan Kader PKS Batam beberapa waktu lalu.

PKS Kepri - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kepri mengusung Andrei Simanjuntak dalam gelanggang Pemilihan Legislatif DPR RI 2019. Bersama tiga nama lain, pria plontos itu memberi warna baru bagi PKS. Mengenal dan menjadi kader PKS sejak masih bernama Partai Keadilan pada 2003 silam di Batam.

Laki-laki berperawakan tinggi besar masuk ke sebuah ruangan. Tiba-tiba ruangan hening menghormati tamu yang diundangnya. Apalagi tamu yang datang kali ini berbeda dengan yang biasa.

Dalam sesi perkenalan dan diskusi yang terjadi di tengah-tengah acara, terbuka sesuatu hal yang menarik dari sosok tamu tersebut. Ketika salah satu peserta diskusi bertanya,. “Saya penasaran dan akhirnya melakukan searching di Google, sebab hanya sedikit tokoh Batak yang bermarga Simanjuntak. Bahkan di Batam ini belum ada. Jika di level nasional kami mengenal Marsillam Simanjuntak, tokoh angkatan ’66, tokoh Reformasi, dan bagian dari Kabinet Gus Dur dengan jabatan terakhir Jaksa Agung,” papar salah satu peserta seminar.

Pertanyaan ini di jawab oleh tamu yang menjadi pembicara itu. ”Marsillam Simanjuntak kebetulan adalah ayah saya,” jawab pembicara itu.

Cinta Pertama

“Kepri, terlebih Batam memiliki sejarah yang menarik buat diri saya,”.

Itulah kalimat pembuka Andrei Simanjuntak, sosok pembicara itu setelah bertahmid kepada Allah SWT dan bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Wajah-wajah serius peserta pun menunggu kisah menarik apa yang akan disampaikan oleh laki-laki berkepala plontos bernama Andrei itu tentang kota mereka. “Saya mulai jatuh cinta dengan PKS saat berkunjung ke Batam pada tahun 2003,” begitu Andrei menyambung pembuka.

Andrei ke Batam waktu itu dalam rangka menjadi narasumber untuk sebuah seminar. Dalam seminar itulah ia bertemu dengan Zulkieflimansyah, pengurus pusat PK (Partai Keadilan), cikal bakal PKS, yang juga menjadi narasumber di seminar yang sama.

Zulkieflimansyah sudah mengenal keluarga Andrei sejak lama karena ia pernah menjadi mahasiswa Ibunya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Diskusi dengan Zulkieflimansyah berujung kepada ketertarikan untuk bergabung dengan Partai Keadilan.

“Ada satu kalimat dari Zul yang menjadi hook atau kail yang mengait saya sehingga menjadi tertarik”, kenang Andrei. “PK is a learning community,” sambung dia. Bagi Andrei, PK adalah komunitas bagi para pembelajar. “Nah, saya adalah seseorang yang sangat suka belajar, terutama mengenai the Human Condition, kondisi kemanusiaan,” tambah dia lagi.

Jawaban Zulkieflimansyah itu yang membuat Andrei  terjun dan melibatkan diri dengan PK sampai sekarang setelah bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

15 tahun kemudian, Zulkieflimansyah adalah Gubernur Terpilih Nusa Tenggara Barat dari PKS dan Andrei Simanjuntak adalah pengurus pusat di Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS di Badan Hubungan Luar Negeri.

Perjalanan Spiritual
Andrei lahir dari pasangan orang tua yang melek ilmu. Kedua orang tuanya adalah Almamater Universitas Indonesia. Sejak remaja, Andrei sudah di Amerika Serikat. Ketika itu sekeluarga mengikuti ayah Andrei yang sedang melakukan Extended Research di University of California (UC) Berkeley, California, selama dua tahun.  Andrei juga mengeyam kuliah di Berkeley. Ia menyelesaikan studi S1 dan S2-nya di negeri Paman Sam.

Andrei muda seperti kebanyakan anak muda seumurannya, pernah coba-coba “menyerempet” hal-hal negatif, yang merupakan ekses dari pergaulan yang salah. Namun ia cepat sadar dan mengembalikan roda kehidupannya di rel yang benar. Dan ia mengakui bahwa kembalinya ke jalan yang benar karena tertolong oleh proses spiritual yang memberinya kekuatan untuk itu.

Awal perjalanan spiritualnya ia lalui bersama Jamaah Tabligh. Ia berkenalan dengan mereka ketika bekerja di Malaysia pada 1999. Bersama jamaah yang aktif berdakwah ini, Andrei mulai mengasah berbagai ilmu dan sikap keislaman, berkeliling ke berbagai daerah di Malaysia seperti Perlis, Penang, Langkawi dan persekitaran Kuala Lumpur.

Di Indonesia, daerah terjauh yang pernah didatanginya adalah Timika, Papua.

Puncak dari pengalaman berdakwah ini adalah ketika ia berkesempatan untuk bergerak di IPB (India, Pakistan dan Bangladesh) pada tahun 2001. Meski Andrei mengakui, bahwa ia sudah mulai berkurang aktivitasnya di Jamaah ini setelah ia menunaikan ibadah Haji pada 2007, dikarenakan kesibukan antara lain di PKS dan pekerjaan sehari-harinya. Ia juga mengatakan bahwa pengalamannya di Jamaah inilah yang memberikan fondasi spiritual yang tak tergoyahkan sampai sekarang. “Disitulah saya mulai mengerti “Ruh” dari agama”, ujarnya.

Spiritualitas Jamaah Tabligh yang menekankan kepada “Ruh”, ia kombinasikan dengan gaya dakwah struktural dan sistematis PKS, didukung oleh kedisiplinan dan etika profesionalisme yang ia pelajari di Amerika Serikat. Sehingga tersajilah sosok yang ramah dan berilmu.

Kini Andrei diberi amanah untuk berlaga sebagai calon legislatif DPR RI daerah pemiihan Kepri. Bersama tiga orang rekannya sesama caleg dari PKS, ia bertekad mengembalikan kursi PKS yang hilang pada Pemilu 2014.

Post a Comment

 
Top