GuidePedia

0

PKS Kepri -Umurnya tidak muda lagi. Tampak ada guratan-guratan di kulitnya mendandakan usianya yang terus menua. Namun di usianya yang sudah “kepala enam” itu, ia tetap tegar menjadi sosok pengayom bagi kedua belas anaknya. Ya, itulah sosok yang melekat kepada diri seorang ibu bernama Rohana. Wanita yang sudah lima tahun berjuang untuk terus menyekolahkan anak-anaknya karena suami tercintanya sudah dipanggil oleh Sang Khalik.

Meski pendidikan tidak tamat SMP, namun ibu kelahiran Pulau Geranting, Belakang Padang, Batam ini gaya komunikasinya mengalir seperti para pakar yang ada di televisi. Maklum, sejak kecil meski hidup di pulau semangat belajar Rohana begitu gigih. Rohana kecil harus menyebrangi pulau demi untuk bisa tetap sekolah yang lebih tinggi.

 Namun nasib berkata lain, akibat kurangnya fasilitas di daerahnya dan juga kondisi ekonomi keluarga yang seret membuat hasratnya untuk terus bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi akhirnya terhenti.

Hasrat itu ia tidak pendam. Meski bukan dirinya yang menjadi sarjana, namun delapan dari anak-anaknya kini telah bergelar sarjana. Tidak itu saja dua anaknya pun kini menggondol gelar master. Sedang dua anaknya lagi masih sekolah, salah satunya masih SDLB.

Di tengah semangat juangnya, rupanya Allah menguji keluarga Rohana. Anak terakhirnya pendengarannya tidak normal (tuli). Ia pun tidak pilih kasih. Mengingat di tempat kelahirannya tidak ada SDLB, anaknya pun ia bawa ke Batam agar tetap bisa bersekolah.

“Pendidikan itu sangat penting, apapun insya Allah akan saya lakukan,” begitu katanya di depan ratusan orang yang mengikuti acara BPKK DPW PKS Kepri di Lapangan Engku Putri, Batam (20/12).

Nurmia, anak kedelapan menceritakan tentang sosok ibunya. Bagi Nurmia menceritakan ibunya itu sangat susah. Ia sulit untuk memulai dari kalimat mana harus memuji ibunya. Seolah hampir setiap tindakannya adalah sama besar nilainya, sehingga Nurmia sangat kebingungan untuk memulai ceritanya dari mana. Ia malah memulainya dengan berderai air mata. Menangis.
Akhirnya ia mencoba untuk menata narasinya. Nurmia berujar ibunya adalah multi peran. Ia sebagai ibu. Ia juga sebagai ayah. Ia sebagai guru dan ia juga sebagai motivator agar anak-anaknya tetap bergairah mencari ilmu.

“Ibu saya itu luar biasa,” itulah kesimpulan Nurmia mengenai ibunya.

Kisah inspiratif itu tidak berhenti di situ saja. Ketika panitia menawarkan hadiah mana yang akan ia pilih atas testimony anaknya, Rohana justru menunjuk rice cooker. Ia berfilosofi, dengan rice cooker itu anak-anaknya bisa makan semuanya. Tidak ada pilih kasih.

Tidak berlebihan bila Rohana adalah ibu anak kader. Karena hampir mayoritas anak-anaknya adalah kader PKS. Itulah sosok Rohana yang tegar. Yang sederhana  dan yang patut menjadi contoh bagi kita semua.  (isy). foto by amir_seibeduk

Post a Comment

 
Top