GuidePedia

0
PKS KepriWakil Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfuz Sidik mengakui gejala apatisme politik masyarakat di pedesaan semakin luas sekarang ini. Menurutnya, mereka tidak melihat adanya perubahan meskipun sudah sering keluar masuk tempat pemungutan suara (TPS).

"Saya kemarin ke TPS, pilih bupati, gubernur, anggota DPR, presiden, desa saya gini-gini saja. Mereka tidak melihat produknya," kata Mahfuz dalam sebuah diskusi di Jakarta, 26 Februari 2014.

Mahfuz melihat kepedulian warga di kampung terhadap politik juga semakin tipis. Salah satu sebabnya, mereka sering menonton televisi yang menampilkan para politisi yang tertangkap karena kasus korupsi.

"Ceritanya seram semua, tangkap tangan, gelandang ke KPK," ujarnya.

Sejauh ini, dia menilai masyarakat pedesaan belum memiliki pemahaman menyeluruh terhadap pemilu legislatif, pilpres. Mereka hanya mengetahui bahwa pemilu adalah ajang memilih pemimpin yang akan mengelola negara.

"Tidak tahu apakah ini pemilu legislatif, pilpres, pemilukada," katanya.

Lebih jauh, Ketua Komisi I DPR RI itu berpendapat, ada dua problem serius yang dihadapi oleh bangsa Indonesia jelang pemilu saat ini. Pertama, masyarakat menjadi pragmatis dengan populernya jargon 'wani piro' atau berani bayar berapa. 

Kedua, semakin banyak kertas suara yang tidak terpakai berpotensi dimanfaatkan oleh para 'setan' yang bergentayangan. "Setan-setan politik akan memanfaatkan itu. Ini tugas Bawaslu memastikan tidak ada kertas yang tidak kepakai tapi dipakai di tempat lain," katanya. [viva.co.id]

Post a Comment

 
Top